Rabu, 28 April 2021

Resume ke 8 Belajar Menulis

 

Cara Mudah Memasarkan Buku

        Alhamdulillah, kelas belajar menulis yang saya ikuti, siang ini memasuki pertemuan ke sepuluh. Di tengah kesibukan, saya selalu berusaha menyempatkan diri untuk membuka pesan yang masuk di grup Whatsapp.



        Materi hari ini dibawakan oleh bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. yang ngetop dikenal sebagai Omjay. Berkat Omjay saya bisa mengenal kelas belajar menulis ini. Patut pula saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Omjay karena beliau saya mendapatkan kembali semangat menulis yang sempat tenggelam. Makasih banyak Omjay.

        Omjay adalah seorang yang memiliki segudang talenta, berikut profilnya. Seorang Trainer, Teacher, Blogger, Fotografer, Motivator, Pembicara Seminar, Workshop PTK, dan Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar dan Workshop sebagai Pembicara di tingkat Nasional. Bersedia membantu para guru dalam bidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) online. Berbagai Karya Tulisnya selalu masuk final di tingkat Nasional dan berbagai prestasi telah diraihnya. Untuk melihat foto kegiatannya dapat dilihat di blog http://wijayalabs.multiply.com/photos atau http://wijayalabs.com. Wowww keren atau keren banget kan bapak ini. Pantaslah sekiranya banyak orang yang terinpirasi dan ingin mengikuti jejak beliau. Dengan jargon menulislah setiap hari dan liht apa yang akan terjadi, menjadi senjata pamungkas yang mampu menembus jantungku hingga sampai detik ini saya selalu merasa mati jika dalam sehari tanpa menulis. Meskipun tulisan saya cuma dimuat di buku harian saja.hehehe.

        “Teknik Memasarkan Buku” demikian tema materi yang dibawakan Omjay siang ini. Tema ini sangat cocok dengan saya sebagai pendatang baru didunia kepenulisan. Ketika buku sudah terbit, malah pusing untuk memasarkannya, modal sudah dikeluarkan, baik itu modal pikiran untuk menulis idenya, modal fulus untuk menerbitkan bukunya, belum lagi ongkos kirim untuk bisa sampai di tangan. Maklum, sebagai penulis pemula tentunya masih memakai jasa penerbit indie. Ketika bukunya sampai di tangan, di promosikanlah lewat media sosial, dan hasilnya kebanyakan yang minta gratisan untuk kenang-kenangan. Nah, mungkin untuk buku perdana ok lah ya, apalagi penulis pemula yang menginginkan bukunya dibaca banyak orang, saya tidak peduli dengan uang yang sudah dikeluarkan. Yang penting tulisan saya dibaca orang lain itu sudah cukup membuat saya bahagia. Tetapi, hal tersebut tidak mungkin dibiarkan selamanya. Tidak mungkin setiap menerbitkan buku, dibagi gratisan lagi. Sehingga saya tentu sangat butuh ilmu tentang teknik memasarkan buku.

         Pada kesempatan ini, Omjay membagikan pengalamannya dalam memasarkan buku. Menurutnya, hal yang pertama dilakukan adalah memiliki seorang editor profeional jika kita menerbitkan buku di penerbit indie. Tugas editor adalah mengedit tulisan kita supaya tulisan tersebut enak dibaca, dan akan mudah laku di pasaran. Hal ini tentu berbeda jika kita menerbitkan buku di penerbit mayor yang sudah memiliki editor berpengalaman dan pemasaran yang luas hingga mencapai manca negara.

        Kedua, adalah menggunakan media digital dan media sosial. Bisa melalui youtube atau Instagram seperti yang dilakukan Omjay. Tentunya dengan memberikan tampilan yang elegan dan menarik. Mempromosikan buku dengan asal-asalan di media sosial bisa saja tidak menarik minat pembaca.

       Ketiga, adalah kolaborasi. Kolaborasi sangat penting dalam memasarkan buku, apalagi bagi penulis pemula. Dengan berkolaborasi dengan orang yang sudah memiliki jam terbang tinggi, sudah dikenal oleh khalayak, maka dengan mudahnya pembaca akan membeli buku tersebut, karena sudah yakin akan kualitas isi bukunya.

      Terakhir, adalah silaturahmi. Kekuatan silahturahmi ini dahsyat. Dengan menjaga silaturahmi maka akan banyak rezeki yang mengikutinya. Banyak silaturahmi dengan orang lain akan memudahkan kita untuk memasarkan buku.

      “Kita harus yakin bahwa buku yang dicetak akan menemui takdirnya. Oleh karena itu kita harus berusaha dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas sampai tuntas. Itulah mengapa buku yang saya cetak laku terjual”. Demikian pesan Omjay.

 







Tanggal Pertemuan : 26 April 2021

Resume ke : 8

Tema : Teknik Memasarkan Buku

Narasumber : Wijaya Kusumah, M.Pd.

Gelombang : 18

 

 

Selasa, 27 April 2021

Resume ke-7 Belajar Menulis

 

Mental dan Naluri Penulis

Menjadi seorang penulis tentunya butuh modal. Modal yang utama yaitu kemauan. Ya, adanya kemauan untuk menulis menjadi sebuah jembatan untuk melahirkan sebuah naskah. Ketika seseorang sudah memiliki kemauan untuk menulis, hal selanjutnya yang dibutuhkan adalah mental. Seorang penulis apalagi bagi penulis pemula, mental itu sangat mempengaruhi. Karena ketika mental tidak siap, maka kapan saja kemauan untuk menulis itu hilang dan entah bagaimana lagi caranya untuk mendapatkan kembali kemauan itu.

Sebagai penulis pemula, saya perlu mengetahui bagaimana mengelola mental pribadi supaya memiliki mental baja, yang siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin ketika saya menerima pujian atas tulisanku atau pun kritikan dan bahkan hujatan yang bisa menurunkan semangat menulis saya.



Pada pertemuan ke sembilan di kelas belajar menulis ini, materi yang akan dipaparkan oleh narasumber dengan tema “Mental dan Naluri Penulis” yang akan dibawakan oleh seorang wanita muda, cantik dan berbakat dengan sejuta talenta, demikian dikatakan oleh host, dan saya pribadi setuju. Narasumber kali ini benar-benar masih sangat muda jika dibandingkan dengan saya.

Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. adalah salah satu guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Kelahiran Subang, 23 Mei 1990. Beliau aktif di MGMP dan bidang literasi. Dari beberapa hasil karyanya, terdapat tulisan yang bisa tembus ke penerbit mayor. beberapa penghargaan di bidang literasi pun kerap didapatkannya. 

Menurut KBBI mental adalah bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Sehingga menurut narasumber mental penulis merujuk pada kondisi psikologis atau batin si penulis itu sendiri. Seorang penulis harus memiliki mental dan berdasarkan analisisnya, dilihat dari keseimbangan teknik dan mental penulis, maka ada 4 Tipe Penulis, yaitu dying writer, dead man, sick people, dan alive. Mmm, kira-kira saya masuk tipe yang mana nih. Makin penasaran menyimak lanjutan materinya.

Tipe pertama adalah Dying Writer atau penulis yang sekarat. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang lemah secara teknik pun lemah mentalnya sebagai seorang penulis. Penulis ini biasanya rajin ikut pelatihan menulis namun tidak mampu menghasilkan karya karena merasa bingung bagaimana harus menulis, mendapatkan ide, dan sebagainya. Sehingga menulis tinggal mimpi yang tak kunjung jadi nyata.

Tipe kedua adalah Dead Man. Sesuai namanya, tulisan dari kategori ini "mati". Tidak diketahui keberadaannya. Tulisannya dibuat dalam folder laptop ataupun di media lain dan tidak dipublikasikan. Alasannya mereka kurang berani ataupun malu mendapatkan kritikan dari pembaca. Padahal ilmu tentang kepenulisannya sudah mumpuni.

Tipe ketiga adalah Sick People. Orang-orang dalam kelompok ini adalah yang masih lemah teknik menulisnya namun sudah cukup memiliki mental seorang penulis, sehingga sudah berani mempublikasikan tulisannya. Mereka sudah siap jika ada yang mengkritik, mengomentari tulisan mereka dan sejatinya sadar masih terdapat kekurangan dalam tulisannya. Misal typo, penggunaan kata yang sama berulang kali, paragraf yang terlalu panjang, dan sebagainya. Nah, sepertinya saya di tipe ini nih, sudah punya tulisan tapi masih butuh tempelan dari kekurangan-kekurangan yang saya miliki.  Dan menurut ibu narasumber obatnya mudah, yaitu terus menulis. Dengan meningkatkan jam terbang dalam menulis penyakit itu akan sembuh. Karena semakin banyak menulis, semakin banyak review, semakin banyak baca, sehingga bisa meminimalkan kesalahan dalam penulisan karya.

Tipe keempat merupakan kategori terbaik, yaitu Alive, yaitu penulis yang tulisannya hidup dan senantiasa berkarya seperti jantung yang terus berdetak saat pemiliknya bernyawa. Orang-orang dalam kelompok ini sudah bisa dikatakan "ahli" menulis (kuat teknik) serta kuat mentalnya. Cirinya mudah. Meski tingkatan ahli ada pemula, menengah dan sangat ahli, tapi secara umum kita bisa mengenali mereka. Misal saat menulis sudah seperti kebutuhan primer seperti makan. Ibaratnya, jika tak makan akan lapar. Begitu pula mereka yang hidup dalam menulis. Akan lapar menulis bahkan jika sehari saja tak membuat tulisan. Ciri yang paling kentara dari kelompok ini tentu saja seperti juara lomba menulis, bukunya tembus di jurnal nasional, di media massa, dsb. Kelompok Alive ini termasuk kategori pembelajar sejati. Selalu berproses. Mampu hadapi tantangan menulis

Teknik menulis akan membaik jika kita sering berlatih menulis. Mental penulis akan terbentuk ketika kita terus melatih diri mempublikasikan tulisan kita untuk dibaca oleh orang lain.

Pembahasan selanjutnya yaitu naluri penulis. Menurut KBBI, na·lu·ri n 1 dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting; 2 Psi perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup;

Orang yang memiliki naluri penulis, akan mengoptimalkan seluruh inderanya sehingga bisa menghasilkan karya berupa tulisan. Setiap ada kejadian di sekitarnya maka hatinya akan tergerak untuk membuat tulisan. Itu adalah contoh sosok yang memiliki naluri penulis.

Maka, Kenali diri Anda dan lingkungan Anda, lalu buatlah tulisan. Maka karya karya yang kita hasilkan akan mengasah naluri penulis dalam diri kita. Jangan patah semangat, menulislah terus, maka tulisanmu akan menemui takdirnya. Demikian kalimat penutup narasumber, yang membuat semangat menulis kembali berkobar dalam diriku.

 


Tanggal Pertemuan : 23 April 2021

Resume ke : 7

Tema : Mental dan Naluri Penulis

Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. 

Gelombang : 18

 

Rabu, 21 April 2021

Resume ke 6 Belajar Menulis

 

BUKU MUARA TULISAN

Memiliki buku adalah cita-cita seorang penulis. Meskipun saya sebagai penulis pemula sudah menerbitkan dua buku fiksi di dua tahun terakhir, namun keinginan untuk menerbitkan buku non fiksi masih kuat. Hal tersebut membuat saya makin bersemangat mengikuti setiap materi yang dipaparkan narasumber di grup WA belajar menulis yang dipelopori oleh Om Jay. Tentunya saya perlu berterimakasih pada beliau. Saya merasa amat beruntung bisa mengenalnya dan diajak bergabung di kelas belajar menulis. Saya pun dapat mengenal beberapa orang dari penerbit, baik itu penerbit indie ataupun penerbit mayor.



Pertemuan siang ini, rabu tanggal 21 april 2021 narasumber yang akan membagikan ilmunya adalah seorang Purnawirawan Polri. Terakhir bertugas sebagai Direktur Pasca Rehabilitasi BNN, Pangkat Kombes Pol. Beliau adalah bapak H. Thamrin Dahlan M.Si yang juga merupakan Dosen dan Penulis serta Pendiri Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD). Aktif menulis sejak 2010 dan telah menerbitkan 37 judul buku, dengan buku pertama yang berjudul “Bukan Orang Terkenal” merupakan bunga rampai. Sekarang beliau fokus membantu para penulis menerbitkan buku ber ISBN tanpa biaya. Beliau juga aktif menulis di kompasiana. Wow ini keren atau keren amat? Tak henti saya berdecak kagum dan berucap syukur karena bisa berjumpa dengan orang-orang hebat,meskipun jumpanya di dunia maya. Smoga kelak bisa jumpa di dunia nyata, aamiin.

Pada kesempatan siang ini, bapak H. Thamrin mengangkat tema materi “buku mahkota penulis, buku muara tulisan”. Menurutnya, sesungguhnya muara dari menulis itu adalah buku. Karena, buku bersifat abadi dan menjadi alibi tak terbantahkan atas kehadiran seorang anak manusia di muka bumi ini.

Semua orang adalah penulis, karena semua orang mampu berbicara. Menulis adalah hal yang sangat sederhana karena hanya menuliskan apa yang kita ucapkan.  Menulis itu bagaikan tetesan air yang akan mengalir dan mencari tempat bermuara. Kata demi kata yang dituliskan akan menjadi sebuah kalimat dan akhirnya bermuara menjadi sebuah buku. Buku adalah kumpulan tulisan nan terserak, selaiknya karya gemilang, olah pikir  perlu diselamatkan menjadi kitab. Ya, benar sekali kata beliau. Menulis itu menceritakan hal yang kita temui dalam kehidupan dalam sebuah deretan abjda-abjad yang tersusun indah dan menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca.

Menulislah apa yang anda sukai. Kita bisa memilih jenis tulisan sesuai keingina kita. Ada beberapa macam tulisan yaitu tulisan artikel deskriptif adalah tulisan yang hanya sebatas menggambarkan atau melaporkan tanpa memecahkan masalah, yang penting memenuhi syarat 5 W 1 H, misalnya reportase, liputan, atau laporan. Selanjutnya ada tulisan artikel eksplanatif yaitu tulisan yang menjelaskan, menerangkan, dan mengupas permasalahan secara mendalam/ ilmiah, objektif, dan bertanggung jawab. Misalnya karya ilmiah dan opini. Yang ketiga adalah tulisan fiksi, yaitu tulisan yang memberikan kebebasan kepada penulis untuk menuangkan inspirasi dunia maya sebagai bagian tak terpisahkan dari seni, misalnya puisi, novel, cerpen, cerbung, dan pantun.

Seorang penulis sebaiknya mengupayakan sekali duduk tulisan jadi. Menulislah yang pendek dalam satu kalimat maksimal 9 kata, cukup 5 paragraf bagi penulis pemula, dan jika dalam paragraf tiba-tiba kehabisan ide atau blank, maka sebaiknya pindah ke paragraf berikutnya. Menulis dengan runut dan dengan bahasa bicara, dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Abaikan saja salah pengetikan, nanti bisa diperbaiki pada proses editing. Setelah itu, jangan lupa share di media sosial agar tulisan tersebut memiliki roh yaitu pembaca.


Selain berbagi tips menulis, narasumber keren ini juga mengenalkan penerbit YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan) yang siap membantu penulis menerbitkan buku perdana ber ISBN tanpa biaya. Dengan mengikuti prosedur menulis di YPTD, yaitu melakukan registrasi, nanti akan mendapat akun dan password,  Selanjutya Selamat Datang di YPTD, kemudian menulislah  setiap waktu  hingga tak terasa 40 hari kemudian jadilah buku ber ISBN tanpa biaya.


Tanggal Pertemuan : 21 April 2021

Resume ke : 6

Tema : Buku mahkota penulis, buku muara tulisan

Narasumber : H. Thamrin Dahlan M.Si

Gelombang : 18









Selasa, 20 April 2021

Resume Ke 5 Belajar Menulis

 

Menulis resume untuk jadi buku

            Bergabung di grup Belajar Menulis merupakan sebuah berkah bagi saya sebagai seorang penulis pemula yang masih haus akan ilmu kepenulisan. Awalnya hanya menyimak dan masih bingung apa yang harus dilakukan setelah menyimak materi yang disampaikan narasumber. Setelah gelombang 18 dibuka, barulah timbul keinginan untuk berlatih menulis resume materi dengan harapan bisa melatih kemampuan diri untuk menulis. Menulislah setiap hari, dan lihatlah apa yang akan terjadi, kalimat yang diucapkan oleh Om Jay sebagai pelopor kegiatan belajar menulis ini selalu terngiang di telingaku. Kalimat tersebut juga menjadi sebuah suntikan semangat menulis bagi saya.

            Pertemuan keenam yang dilaksanakan pada hari jumat, 16 april 2021 dengan tema materi menulis resume untuk jadi buku dibawakan oleh seorang pemenang lomba blog tingkat nasional berjudul “Blogger Inspiratif”. Beliau akan membagikan pengalamannya selama menulis di blog sehingga bisa menjadi juara 1.



Nara sumber inspiratif tersebut adalah Ibu Aam  Nurhasanah, S.Pd. Lahir di Cipanas, tanggal 12 Agustus 1988. Menempuh masa pendidikan mulai dari  SD  Negeri Bintangresmi 02, SMP Negeri 1 Cipanas, SMA Negeri 1 Cipanas, Kuliah S1 di STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung, Prodi DIKSATRASIADA dan lulus tahun 2012. Saat ini, beliau menjadi kepala sekolah di SMPS MATHLA UL HIDAYAH CIPANAS (SMPS MAHIDA), sampai sekarang di Kp. Hamberang, Desa Luhurjaya, Kecamatan Cipanas, Kab. Lebak, Provinsi Banten. Beliau telah melahirkan 15 buku sejak juli 2020 hingga saat ini, dan masih menggarap lagi 3 naskah buku antologi yaitu antologi pantun, antologi puisi, dan antologi gelombang 18.

Mengawali materinya, bu Aam menyempatkan diri mengajak peserta pelatihan untuk berkunjung ke blognya di http://aamnurhasanah12.blogspot.com/ untuk membaca beberapa tulisan beliau dengan harapan bisa menginspirasi teman-teman.

Materi yang dipaparkan oleh bu Aam sangat singkat namun jelas. Berawal dengan penjelasan mengenai pengertian resume. Menurut beliau resume adalah rangkuman atau ringkasan. Jadi saat menulis resume, peserta diharapkan tidak mengcopy seluruh perkataan dari narasumber. Tapi lebih bagusnya adalah mengembangkan dengan bahasa sendiri.

Untuk menulis resume tentunya membutuhkan keterampilan menyimpulkan isi materi yang disampaikan oleh narasumber. Bukan menuliskan semua materi yang disampaiakn oleh narasumber namun, hanya menuliskan poin-poin penting dari materi yang disajikan. Jangan lupa sebaiknya menuliskan pengalaman menarik anda sehingga bisa menghasilkan karya tersebut, tentunya diikuti dengan perkenalan diri penulis.


Bu Aam melanjutkan bahwa dalam menulis sebuah resume, ada 7 (tujuh) teknik yang perlu diperhatikan penulis supaya resume tersebut layak untuk dijadikan sebuah buku. Hal apa sajakah itu?  Yuuk kita simak pemaparan beliau berikut ini.

Untuk menulis resume yang akan dijadikan sebuah buku, teknik yang perlu diperhatikan pertama adalah penulis hendaknya mengumpulkan resume dalam bentuk file word dan jika perlu buatkan satu folder khusus untuk memudahkan, selanjutnya tentukan tema, lalu buatlah daftar isinya atau TOC ( Table Of Content) kemudian kembangkan TOC tersebut. Setelah tahapan tersebut, maka mulailah mereview, merevisi, dan mengedit naskah anda supaya lebih menarik dibaca. Setelah tulisan anda dianggap sempurna baik dari segi bahasa dan penggunaan tanda baca, tibalah waktunya untuk melengkapi sinopsis yang berguna untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang isi utama yang ada di dalam buku anda. Tahap terakhir adalah mengirim tulisan anda ke penerbit.

Diakhir materi beliau tidak lupa memberikan kalimat ampuh.

“Menulislah agar hidupmu bermakna, menulislah agar hidupmu berwarna, menulislah hari ini, agar kau dikenal esok hari”

 

         


Tanggal Pertemuan : 16 April 2021

Resume ke : 5

Tema : Menulis resume untuk jadi buku

Narasumber : Aam Nurhasanah, S.Pd.

Gelombang : 18

 

Senin, 19 April 2021

Resume ke 4 Belajar Menulis


PENERBIT INDIE

Ditengah kesibukan belajar di masa pandemi covid-19, saya selalu berusaha menyempatkan diri untuk mengikuti pelatihan menulis. Memutuskan untuk serius belajar menulis ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Ada saja kendala yang dihadapi mulai dari kesibukan mengajar, mendampingi anak belajar, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dan berbagai kegiatan organisasi lainnya yang cukup menguras energi. Sehingga ketinggalan materi di grup belajar menulis.

Saya bercita-cita ingin menjadi seorang penulis terkenal, sehingga saya harus meluangkan waktu untuk menulis. Tekad kuat hampir saja runtuh ketika materi pertemuan keempat tidak disajikan secara sempurna di grup yang saya bergabung. Aada rasa sedih saat itu, hingga akhirnya saya memutusakn untuk mengirim pesan jalur pribadi (japri) kepada Om Jay dan Bu Aam untuk dimasukkan ke grup menulis yang aktif. Alhamdulillah, saya digabungkan di grup lainnya sehingga bisa menerima materi dengan baik. Tak sampai disitu, rupanya kesibukan masih mengalahkan keinginan untuk menulis, saya belum mampu memanajemen waktu sebaik mungkin untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebutuhan. Akhirnya, pagi ini dengan niat yang kuat saya menonaktifkan data seluler dan berusaha fokus untuk menulis resume materi yang tertinggal.



Pertemuan kelima belajar menulis diisi oleh narasumber kece yaitu bapak Mukminin, S.Pd.,M.Pd. Beliau Lahir di Jombang, 6 Juli 1965. Menyelesaikan pendidikan D2  IKIP NEGERI Surabaya pada tahun 1987. Lulus S.1 IKIP PGRI Tuban 1998. Lulus S.2 UNISDA LAMONGAN 2012. Jurusan Bahasa dan Sarta Indonesia. Saat ini beliau berprofesi sebagai Guru (PNS) di SMP I Kedungpring Lamongan sejak 1989-2020 sampai sekarang. Hobby beliau adalah membaca, sehingga tidak heran jika sampai saat ini, bapak Mukminin sudah menerbitkan puluhan buku diantaranya buku solo dan buku antologi. Salah satu motto beliau yang membuat saya semangat adalah "Torehkan penamu dari hikmah jejak kakimu siapa tahu itu jadi penolongmu (Cak Inin 2020)".

Tema materi yang dibawakan oleh beliau yaitu Penerbit Indie. Penerbit Indie atau Penerbit independen atau penerbit mandiri adalah sebuah media untuk menerbitkan buku yang dilakukan penulis naskah bukan dari penerbitnya. Sehingga naskah bisa diterbitkan tanpa melalui prosedur yang rumit.

Seorang penulis tentunya merasa sangat bahagia dan senang ketika melihat karyanya terbit menjadi sebuah buku. Namun, hal tersebut tentunya tidak melalui proses yang mudah juga. Meskipun kedengarannya gampang menerbitkan buku di penerbit Indie, sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam proses menulis hingga menerbitkan buku.

Ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu tahap pra-writing, outline, writing, revisi dan editing, dan terakhir publikasi. Kelima tahapan tersebut dibahas dengan lugas oleh pemateri pada pertemuan kali ini.

Tahap pertama, yaitu pra-writing adalah penulis akan mulai mencoba mencari ide yang sesuai dengan tema yang ditulis. Tema sesuai passion yang disukai. Boleh fiksi maupun non-fiksi. Ide bisa dari pengalaman, dari hasil membaca buku, majalah, koran, atau kejadian yang sedang berlangsung. setelah ide di dapat, tahapan selanjutnya yaitu membuat draft atau outline. Pada tahap ini seorang penulis  mulai membuat outline atau daftar isi buku yang akan ditulis atau dikembangkan menjadi  naskah buku. Ketika penulis selesai membuat outline dan menganggap tulisan yang akan dibuat sudah sesuai keinginan, maka penulis memasuki tahapan writing, yaitu penulis mulai menulis dan mengembangkan kerangka atau daftar isi untuk dijadikan naskah yang lengkap dengan diperlukan kreativitas penulis dalam  membuat karya-karyanya. Kreatifitas itu berupa kemampuan merangkai kata, kemampuan menggunakan majas, kemampuan berekspresi, agar tercipta tulisan yang menarik dibaca. Tahap berikutnya adalah tahap revisi. Setelah menuliskan banyak hal yang ingin ditulis pada naskah, pada tahap selanjutnya adalah mulai mengoreksi atau merevisi tulisan mana yang baik dicantumkan atau tidak. Pada tahap ini, Anda akan mencari tahu dimana letak kekurangan tulisan. Apakah sudah sesuai dengan alur, atau masih melebar kemana-mana. Dan dilanjutkan  tahap revising.  Seorang penulis dapat mengubah beberapa bagian dari tulisannya. Ia juga bisa menambah isi tulisannya. Ia dapat menambahkan data baru, ia dapat menghilangkan opini tertentu, dan lain sebagainya. Intinya, melalui tahap revisi inilah penulis akan memoles karyanya, ia akan menjadikan tulisan tersebut semakin menarik lagi, kemudian masuk pada tahapan editing, yaitu penulis akan menjalankan proses pengeditan terhadap karyanya. Berbeda pada tahap revisi yang masih bisa menambah mengurangi isi tulisan, pada tahap ini penulis hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pola kalimat, dan berbagai kesalahan tata bahasa lainnya. Meskipun nanti tulisan Anda akan kembali diedit oleh editor di penerbit, seorang penulis tetap harus berusaha menyunting tulisannya sendiri atau dengan istilah lain Swasunting. Dan tahapan terakhir adalah publikasi. Tahap ini merupakan tahap yang paling dinantikan oleh seorang penulis. Jika penulis sudah  yakin dengan tulisan naskah bukunya, maka penulis bisa meneruskan naskah ke penerbit.

Sebagai penulis pemula, tentunya masih sukar untuk menembus penerbit mayor, sehingga penerbit indie hadir untuk membantu mempublikasikan karya penulis, dan bisa dinikmati oleh penulis dan pembaca.


                                      



                               




Tanggal Pertemuan : 14 April 2021

Resume ke : 4

Tema : Penerbit Indie

Narasumber : Mukminin, S.Pd.,M.Pd.

Gelombang : 18


Senin, 12 April 2021

Resume ke 3 Belajar Menulis

 

DASAR PENULISAN

Pertemuan ketiga Belajar menulis gelombang 18, malam ini menghadirkan seorang pemateri yang sangat hebat, yaitu ibu Rita Wati, S.Kom. dari Bali dengan tema materi “Dasar Penulisan”. Membaca tema materi, saya menjadi antusias meskipun di rumah sedang ada hajatan, tetapi saya tetap berusaha untuk mengikuti materi meskipun belum bisa menuliskan resume secepatnya.


Pemateri malam ini, Ibu Rita berprofesi sebagai  Teacher, operator, writer, kurator dan blogger. Motto hidupnya adalah Setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan Belajar sepanjang hayat. Saat ini Ibu Rita sedang menekuni dunia literasi dan blog dengan bergabung di Komunitas Belajar Menulis bersama Om Jay, AISEI Writing Club bersama Dr. Capri Anjaya,  Komunitas Sejuta Guru Ngeblog dan Komunitas Cakrawala Blogger Nasional.

Beberapa buku telah diterbitkan oleh beliau, diantaranya 3 buku solo pada tahun 2020 yaitu, 25 Trik Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku, Merajut Asa Sejak Belia dan 25 Tutorial Pembelajaran Daring dan Luring. Tahun 2021 Terbit Buku Solo Antologi Cerpen Tiara Buku duet bareng Prof Eko Indrajit tentang Manjemen Kelas Online  juga telah dinyatakan lolos tanpa revisi. Betul-betul hebat ibu pemateri.

Selain buku solo beliau juga ikut menulis di antologi Pena Digital Guru Milenial, Pesona Kearifan Lokal Nusantara, Kurikulum Ngumpet. Pengalaman menjadi kurator dalam buku antologi The Meaning Full True Stories, Senandung Guru 1 dan 2 dan  saat ini sedang menangani Pesona Nusantara (Antologi Khasanah Wisata Alam dan Sejarah Indonesia. Demikianlah profil pemateri, yang saya anggap sangat luar biasa karena dalam waktu yang singkat beliau bisa menerbitkan beberpa buku. Dan saya harus belajar untuk bisa seperti beliau.



Setelah perkenalan diri oleh pemateri, diajukanlah sebuah pertayaan yang berkaitan dengan menulis. Hal apakah yang menyebabkan Bapak/ ibu susah menulis? Ya, ada beberapa hal yang bisa timbul dari diri seorang penulis, seperti : Susah ide, miskin kosa kata, sulit merangkai kata, susah memulai, bingung mau menulis apa, tidak percaya diri, merasa tulisannya jelek, dan merasa tulisan tidak layak untuk di baca. Nah, untuk membuang rasa itu maka penulis harus membuang jauh semua hal tersebut dan melakukan kegiatan menulis, menulis, dan menulis setiap hari.

Materi kemudian dilanjutkan lagi dengan memaparkan dasar kepenulisan. Dasar Kepenulisan menggunakan rumus 5W dan 1 H. Adapun unsur-unsur tersebut yaitu 5W1H meliputi What (apa), Where (dimana), When (kapan), Who (siapa), Why (mengapa), How (bagaimana). Rumus ini biasa disingkat ADIKSIMBA “Apa DImana Kapan SIapa Mengapa Bagaimana.

Rumus 5W1H dapat dijabarkan sebagai berikut, Pertama What, yaitu peristiwa apa yang sedang terjadi? Apa dampaknya? apakah peristiwa tersebut menimbulkan kerugian?. Setelah itu Who, dalam 5W1H berperan memfasilitasi untuk memberikan informasi seputar orang-orang yang terlibat dalam cerita yang yang tulis, yang ketiga adalah When, yaitu kapan kejadian dari peristiwa yang diceritakan?, lalu Where, yaitu dimana kejadian/ peristiwa yang diceritakan, selanjutnya Why, adalah suatu peristiwa pasti terjadi bukan tanpa alasan, dan terakhir How atau bagaimana, yang digunakan untuk membantu pembaca memahami alur cerita. Nah, Jika telah terpenuhi ke 6 unsur tersebut maka tulisan kita akan mudah dipahami oleh pembaca.

Seorang penulis pemula terkadang melakukan kesalahan yang tidak disadari, kesalahan itu seperti sering menulis dengan paragraf panjang-panjang, tanda baca yang sering keliru, penggunaan kata yang masih banyak salah tidak menggunakan kata baku. Sehingga pemateri memaparkan beberapa tips menulis agar tulisan kita enak dibaca dan pesan dapat tersampaikan.

Pemateri tidak lupa memberi tips agar tulisan kita enak dibaca, yaitu penulis harus banyak membaca, karena dengan membaca selain menambah pengetahuan, kita juga akan menemukan ide untuk menulis dan memperkaya perbendaharaan kata kita, yang kedua terus berlatih menulis setiap hari dengan memperhatikan  tanda baca, kata baku dan pemenggalan paragrafnya, selanjutnya perhatikan paragraf pembuka, isi dan penutup. Buatlah opening yang menarik sehingga pembaca penasaran hingga tertarik untuk membaca tulisan kita begitu juga  dengan closing, lalu perhatikan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), perhatikan kembali susunan kalimat yaitu  Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan tempat/waktu yang disingkat dengan (SPOK ). Setelah selesai menulis bacalah naskah berulang-ulang,

Di dalam menulis perlu diperhatikan media yang akan digunakan. Terdapat perbedaan menulis di media online seperti blog, facebook, instagram dan lain sebagainya dengan menulis untuk buku atau naskah resmi. Penulisan di media online kita bisa menggunakan paragraf pendek-pendek, sedikit koma dan banyak titik, karena dalam media online kita hanya memiliki waktu 3 menit saja untuk memastikan pembaca melanjutkan bacaannya. Jika menulis buku kita harus mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang benar. Nah, hal ini yang terkadang luput dari perhatian penulis pemula. Saya pribadi baru tahu bahwa ternyata terdapat perbedaan antara menulis di media sosial dengan menulis buku. Saya menjadi merasa semakin beruntung bisa bergabung di grup belajar menulis ini.

Selain hal-hal di atas, seorang penulis pemula juga perlu memperhatikan penggunaan huruf kapital/ besar, penggunaan kata depan di, dan penggunaan tanda seru. Namun hal ini dilakukan pada saat tahapan editing. Sehingga ketika menulis sebuah ide, memperhatikan huruf kapital dan tanda baca diabaikan dulu.

Materi malam ini sangat membantu saya sebagai peserta yang terbilang masih baru di dunia ke penulisan. Menjadi sebah motivasi diri untuk lebih meningatkan kompetensi dan mengisi kekurangan-kekurangan saya.

 Tanggal Pertemuan : 09 April 2021

Resume ke : 3

Tema : Dasar Penulisan

Narasumber : Rita Wati, S.Kom.

Gelombang : 18

Rabu, 07 April 2021

Resume Ke 2 Belajar Menulis

Ide datang dari kepekaan


Awal dari pengetahuan itu adalah kebingungan. Demikian sebuah kalimat yang pernah saya baca pada sebuah artikel yang memuat tentang kalimat-kalimat penyemangat. Bergabung di grup WA Belajar Menulis, saya bingung mau melakukan apa. Saya hanya menikmati materi yang ada, copy paste materi yang disampaikan oleh narasumber, yang kuanggap penting dan bermakna kemudian simpan di laptop dengan rapih, dan selesai. Hingga pada akhirnya saya semakin penasaran dalam kebingungan, dan berusaha lebih serius mengikuti kelas ini.

  Malam ini adalah pertemuan kedua, dipandu oleh Mr.Bams dengan pemateri yang super hebat yaitu Bapak Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd. yang biasa kita panggil Omjay dengan materi "pentingnya ide menulis bagi seorang guru". Kegiatan ini dilakukan melalui pesan chat WA dan pesan suara. 

  Bapak Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd, Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1970, saat ini berkarier sebagai pengajar bidang studi TIK di SMP Labschool Jakarta, selain itu beliau juga adalah pengurus beberapa organisasi dan merupakan seorang penulis dengan segudang prestasi. 

Motto Hidupnya adalah Kejujuran Kunci Keberhasilan dan Kesuksesan. 

   Salah satu buku Om Jay yang laris manis yaitu dengan judul "Menulislah Setiap Hari & Buktikan Apa yang Terjadi (2011)", buku ini banyak menginspirasi orang lain untuk menjadi penulis. Karena menurut beliau, seorang penulis yang hebat akan lahir dari seorang pembaca yang hebat. Jika ingin menjadi penulis, maka kamu harus menjadi pembaca terlebih dahulu.

   Menulis merupakan sebuah hal yang sederhana, namun menjadi sulit ketika kita tidak mampu mendapatkan ide. Seorang penulis pemula biasanya kebingungan untuk mencari ide tulisan. Padahal ide itu bisa didapatkan dari sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita.

   Sebenarnya ide menulis bertebaran di depan mata kita. Namun terkadang kita belum siap menuliskannya. Hal itu disebabkan karena kita belum terbiasa menulis, demikian disampaikan oleh narasumber sebagai kalimat sakti pembuka materinya. 

   Sumber ide yang pertama dan paling enak ditulis adalah diri kita sendiri dan orang lain. Tapi bisa juga yang ada di depan mata kita. Contoh yang paling mudah adalah menceritakan diri sendiri dalam bentuk tulisan. Segala aktifitas keseharian kita dapat diceritakan melalui tulisan, nah hal seperti ini biasanya kita akan lancar menuliskannya. Kita menulis dari sesuatu yang dianggap tidak penting menjadi penting.

   Dari berbagai cerita dan berita yang kita sampaikan. Dari mulai status di wa sampai media sosial, sehingga orang lain mengetahui apa yang kita alami.

Om Jay biasa menuliskan ceritanya di http://kompasiana.com/wijayalabs, beliau jarang menulis di blog sendiri http://wijayalabs.com padahal blognya itu banyak dikunjungi orang lain setiap hari. Hingga kemudian beliau kembali melirik blog tersebut untuk dijamah dengan tulisan-tulisan setelah musibah HP dijambret di depan rumah.

   Menurut beliau, ide menulis yang kedua itu bisa datang dari orang lain. Misalnya dari kepala sekolah yang amanah, rekan guru yang suka menolong, sampai kepada peserta didik yang banyak tingkah, semua bisa menjadi ide tulisan jika kita bisa peka terhadap kondisi yang terjadi di sekitar kita.

   Ternyata beliau punya pengalaman menarik sebelum aktif menulis. Karena beliau adalah seorang guru komputer yang notabene selalu bergelut dengan mesin yang siap menerima perintah. Tergugah oleh rayuan seorang rekannya yaitu pak Ukim Komarudin. Beliau adalah orang yang menjadi inspirator bagi Om Jay untuk bisa menulis, sehingga tidak salah jika Om Jay menganggap pak Ukim Komarudin adalah gurunya.

   Sumber ide yang ketiga agar ide menulis datang kepada kita adalah dari peserta didik. Kita bisa mengamati apa yang dilakukan oleh mereka, mulai dari kebiasaan-kebiasaaannya sampai pada hal yang tak biasa, dan itu bisa dijadikan sebuah ide untuk menulis. Ada beberapa pengalaman penulis yang mengambil ide dari peserta didiknya yang memiliki latar belakang ekonomi lemah namun bercita-cita untuk menyelesaikan pendidikan, kisahnya menjadi sebuah tulisan yang menarik dan inspiratif. Ada pula cerita tentang peserta didik yang nakal kemudian berubah menjadi baik akibat kecelakaan yang menimpa orangtuanya, dan masih banyak lagi cerita hidup peserta didik kita yang bisa menjadi ide dalam menulis.

   Sumber ide yang keempat adalah tetangga. Tetangga adalah salah satu orang terdekat dengan kita. Setiap hari kita bisa bertemu dan bercengkrama dengan mereka. Seringkali banyak hal yang mereka ceritakan mulai dari masalah pekerjaan hingga pada berita-berita yang lagi trend. Nah, dari situ kita dapat mengambil ide lagi untuk menulis.

   Demikian juga dengan sumber ide yang kelima, ide menulis bisa saja datang dari keluarga. Setiap hari anak, suami/istri kita bercerita tentang pengalaman mereka selama sehari. Istri yang bercerita tentang pengalamannya pertama kali mencoba resep kue terbaru, anak yang menceritakan pengalamannya kehabisan kuota ketika sedang belajar melalui aplikasi zoom, saudara yang bercerita tentang serunya perjalanan ke kampung suaminya, dan sebagainya. Semua itu bisa menjadi ide menulis.

   Nah, setelah mengikuti materi malam ini. Sebagai penulis pemula, saya bisa menyimpulkan bahwa ide itu bisa datang kapan, dimanapun, dan dari manapun. Tergantung kepekaan kita untuk menangkap ide tersebut. Maka menulislah dari apa yang anda lihat, dengar, dan rasakan sehingga tulisan anda benar-benar memiliki ruh dan menarik untuk dibaca. 


Tanggal pertemuan: 07 April 2021

Resume ke: 2

Tema: Pentingnya ide menulis bagi seorang guru

Narasumber: Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd

Gelombang: 18

Selasa, 06 April 2021

Resume Ke 1 Belajar Menulis

 

Ketika Ide datang menyapa, sambutlah…

Malam yang dilanda gerimis, dan jaringan internet yang timbul tenggelam tidak menyurutkan semangatku untuk mengikuti pertemuan pertama pelatihan menulis gelombang 18 di grup WA. Dengan niat ingin menjadi penulis seperti teman-teman yang telah menerbitkan bukunya, saya mengikuti materi dengan seksama, berharap tidak ada kata apalagi kalimat terlewatkan yang disampaikan oleh narasumber.

Dalam kegiatan ini kami ditugaskan untuk menulis resume materi setiap pertemuan demi melatih keterampilan menulis peserta. Karena tanpa latihan yang cukup tidak mungkin untuk mendapatkan tulisan yang berkualitas dan enak dibaca. Bagiku, menulis resume terasa berat, itulah mengapa selama mengikuti gelombang 17 saya tidak pernah sekali pun mencoba menulis resume. Ada rasa tidak percaya diri untuk menampilkan tulisan saya dibaca oleh orang lain. Merasa bahwa apa yang saya tulis itu buruk. Namun setelah saya mengikuti kegiatan opening pelatihan menulis gelombang 18, saya berusaha mengumpulkan rasa percaya diri untuk bisa menampilkan tulisan seburuk apapun itu, dengan harapan ada masukan dari pembaca untuk kemajuan tulisan saya.

Menulis menjadi sebuah tantangan bagi saya. Tahun 2019 melalui kegiatan Sagusaku yang diadakan oleh IGI kota Parepare, saya telah menerbitkan sebuah novel dengan judul “April Bukan Bulan”, kemudian di tahun 2020 ikut lagi kegiatan pelatihan menulis bareng sehingga melahirkan sebuah buku antologi kumpulan cerpen “Perempuan yang Menjeda Kenangan”. Namun, ada yang mengganjal dihati saya. Saya memiliki keinginan untuk bisa menerbitkan sebuah buku non fiksi. Maka saya pun mulai mencari kanal-kanal pelatihan supaya bisa belajar tentang cara menulis buku non fiksi.

Di Malam pertama saya mengikuti kegiatan pelatihan menulis di grup WA Belajar Menulis Gelombang 18, kulalui dengan rasa deg-degan, jantung berdegup kencang serasa jatuh cinta kepada seorang perjaka untuk pertama kalinya. Yaa, saya memang telah jatuh cinta malam ini. Saya jatuh cinta kepada dunia kepenulisan, saya ingin menjadi seorang penulis dengan sejuta karya yang bisa dikenang oleh orang lain, memiliki harapan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain melalui tulisan- tulisan yang saya buat. Sehingga dengan penuh semangat saya mencermati kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh narasumber melalui voice note.

Narasumber malam ini, adalah seorang yang sangat inspiratif. Beliau adalah Dra. Sri  Sugiastuti,. M.Pd. yang lebih sering disapa Bu kanjeng. dilahirkan  di  Semarang  8  April  1961, dari pasangan  Sugiman- Hj Sri Yatminten. Beliau pernah belajar di UNS tahun 1980-1984,  FKIP Bahasa Inggris, setelah jeda melanjutkan ke S2 di UMS Surakarta tahun 2007-2010. Saat ini beliau diamanahi  sebagai  Kepala  SMK  Tunas Pembangunan 2  Surakarta.

Beberapa buku telah beliau terbitkan diantaranya “Seri  Pendalaman  Materi  UN  Bahasa Inggris  untuk  SMK” yang diterbitkan Erlangga tahun  2010  dan  setelah  direvisi  ulang tahun  2015  diterbitkan  kembali. Wow  English is So Easy Kids tahun  2018, dan  Ready  to  English  jilid  1,2,3.  Seni  Mendidik  Anak  dengan  Tuntunan  Islami 2013.  Masuk  Surga  karena  Anak  2017,  Merawat  Harapan  tahun 2018  dan  The  power  of  Mother’s Prayers. Menulis  2 novel Hidayah "Kugelar  Sajadah  Cinta  tahun  2013, Perempuan  Terbungkas  tahun  2018, dan dua  buku  memoir  dengan judul Catatan  Hati  Menuju  Baitullah" dan " Semangat Menggapai Ridha Allah, 50 Tahun Pernikahan Emas." Satu  buku  Motivasi "The  Stories  of  Wonder  Women, " Satu buku pengayaan "Budi Pekerti  dan  Akhlak  Mulia" tahun  2018.

Beliau memiliki Motto  dalam  hidupnya, yaitu “Bersemangat  menggapai  ridha  Allah  dengan  berbagi  dan silahturahmi”.


Materi yang disampaikan oleh Bu Kanjeng pada malam ini dengan tema “Cara jadi Penulis”. Diawali dengan cerita pengalaman beliau memulai menulis diusia yang terbilang tidak muda lagi. Kegemaran membaca sejak usia SD menjadi modal untuk  menelorkan karya-karya dengan genre yang beragam. Menulis sudah menjadi kebutuhan bagi beliau, dalam sehari tanpa menulis rasanya seperti tidak lengkap hidupnya. Apa yang beliau tulis adalah pengalaman-pengalaman yang ada di sekitarnya, sehingga dikatakan bahwa tulislah apa yang anda alami, dan tulislah apa yang anda sukai.

Sebagai penulis pemula, tentunya saya ingin memetik banyak ilmu dari Bu Kanjeng. Benar apa yang beliau katakan, bahwa kadang disaat kita akan memulai sebuah tulisan kita malah mogok duluan, tiba-tiba mesin pikir kita terhenti, tidak tahu harus menulis apa. Saya sering mengalaminya, duduk di depan laptop ingin menulis namun bingung bagaimana caranya memulai, kalimat apa yang seharusnya saya tulis duluan. Disitulah mood saya untuk menulis kadang hilang.

Menurut Bu Kanjeng, menulis itu tidak perlu mencari ide. Sebenarnya, ide itu bisa datang darimana saja. Kita lah yang kadang kurang peka dengan kondisi disekitar. Apa yang kita alami, apa yang dialami oleh saudara kita, sahabat, siswa atau orang yang tidak kita kenal sekalipun yang ada di dekat kita, bisa diangkat menjadi sebuah tulisan. Dan tentunya keinginan berikutnya adalah ingin tulisan tersebut menjadi sebuah buku.

Bagaimana prosesnya agar tulisan itu bisa menjadi buku yang baik? menurut Bu Kanjeng, kita seharusnya bangun dulu mental atau keinginan kita yang kuat. Mengumpulkan ingatan kemudian kita tentukan tokoh dan karakter yang ada di setiap subjudul kemudian baru kita membuat outline atau daftar isi yang mau dijadikan subjudul.

Menulis sebuah buku, tentunya harus memiliki makna bagi pembaca. Diharapkan penulis memiliki pemahaman bahwa menebar pengetahuan dan mendialogkan kebenaran itulah bagian dari menulis buku. Dapat memberi inspirasi kepada orang lain adalah suatu hal yang sangat diidamkan oleh seorang penulis.

Sebuah tulisan tergantung irama yang diinginkan oleh penulisnya, karena pada prinsipnya menulis itu bagaikan dirijen mengatur irama lagu. Agar tulisan teratur dan tidak melebar ke pembahasan yang tidak sesuai tema, maka dalam menulis dibutuhkan sebuah outline. Outline adalah daftar isi atau bagian dari yang akan kita tulis biasanya berupa beberapa sub judul atau bisa juga ada bab 1 bab 2 bab 3 dan 4, akhirnya penutup. Jadi sebelum membuat outline, kita perlu mengumpulkan materi-materi yang akan mendukung tulisan kita.

Lalu bagaimanakah cara membuat outline? Ada tiga langkah untuk membuat outline, yaitu langkah pertama adalah memilih topiknya, kemudian yang kedua tentukan informasi yang akan disampaikan kepada pembaca, apakah tulisan tersebut bersifat reflektif, persuasive, atau informasi kepada pembaca yang berangkat dari penelitian. Dan yang ketiga yaitu outline harus fokus, agar tema yang kita tulis tidak bercabang. Setelah outline selesai, jangan pernah berniat untuk menggantinya karena itu adalah sebuah hal buruk terhadap suatu tulisan.

Untuk menjadi penulis yang hebat, kita perlu banyak membaca. Sehingga perbendaharaan kata yang kita miliki semakin kaya. Menulislah disaat ide itu muncul dan lakukan sebagai sebuah kebutuhan.



Tanggal pertemuan: 05 April 2021

Resume ke: 1

Tema: Cara Jadi Penulis

Narasumber:Dra. Sugiastuti,. M.Pd.

Gelombang:18

POSTINGAN UNGGULAN

MATERI 1

BENTUK-BENTUK MUKA BUMI Hampir sepanjang sejarah selama ratusan tahun kita telah mengetahui dan juga meyakini bahwa bentuk planet termasuk...