Rabu, 26 Mei 2021

Resume ke 14 Belajar Menulis

 Tips Menyusun Buku


Menulis sebuah buku tentu harus memiliki daya tarik bagi pembacanya, dan sebelum sampai ke tangan pembaca, buku tersebut melalui proses editing dan beberapa tahapan proses lainnya. Hingga akhirnya dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Narasumber hari ini adalah Bapak Yulius Roma Pantandean,S.Pd. Seorang guru muda yang berasal dari Tana Toraja dengan kemampuan menulis yang sangat mumpuni dan sudah berhasil menembus penerbit mayor yaitu penerbit Andi, dengan tema materi Langkah Menyusun Buku.

Menulis naskah buku tanpa beban akan lebih dinikmati, apalagi pada saat merapikan naskah. Perasaan yang selalu menghantui seperti menganggap naskah kita tidak berkualitas, bahasanya kurang bagus, dan takut tidak diterima oleh pembaca, supaya dibuang jauh-jauh. Hal ini hanya akan menjadi penghambat untuk meneruskan sebuah naskah yang sudah kita rencanakan.

Guru Berprestasi jenjang SMA Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021 ini menyatakan, sebuah langkah awal dalam menyusun sebuah buku, adalah penulis harus memiliki keyakinan bahwa naskahnya paling unik diantara semua buku yang pernah terbit. Kedua, jika naskahnya memiliki TOC (Table of Contents), baca ulang urutan judul dan sub judulnya. Mungkin saja ada judul yang cocok di Bab lainnya, termasuk potongan-potongan naskahnya. Hindari ada pengulangan isi paragraf yang persis sama di Bab lainnya.

Ketiga, penulis dapat memastikan ukuran kertasnya A5 dengan jumlah halaman khusus isi buku minimal 75 halaman. Keempat, disarankan menerbitkan buku solo dengan mengupayakan ada Kata Pengantar dari orang lain. Kelima, menambahkan Prakata selaku penulis. Keenam, jika memiliki gambar pendukung, cantumkan sumber gambarnya. Ketujuh, Editing naskah dan finalisasi. Kedelapan, baca ulang naskahnya untuk memastikan urutan Bab, judul dan sub judulnya sudah sesuai.

Untuk memudahkan dalam menyusun buku, penulis buku Guru Menulis Guru Berkarya ini membagikan beberapa metode yang dapat digunakan penulis melalui akun chanel youtubenya, seperti membuat judul, Bab dan sub judul pada buku secara otomatis, membuat indeks pada tulisan berbentuk buku, membuat nomor halaman berbeda secara otomatis, membuat daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka otomatis.

Hal yang penting untuk sering-sering dilakukan juga adalah menyiangi naskah tulisan kita. Kadang ada Bab yang masih minim materinya, tentunya butuh tambahan materi. Jika merasa kesulitan menambahkan kalimat, tambahkanlah contoh-contoh pengalaman nyata yang pernah bapak/ibu jalani yang terkait dengan topik bukunya, demikian saran beliau.

Terkadang saat asyik menulis biasa ada naskah yang mirip. Adanya naskah yang mirip ini tak perlu dihilangkan, namun salah satu bagiannya bisa dijadikan sebagai bagian pembahasan konsepnya, sementara bagian lainnya menjadi tempat pemaparan contoh-contoh konkritnya. Sehingga antara kedua bagian yang sama tadi menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi.

Tips berikutnya agar naskah buku yang isinya biasa-biasa saja akan menjadi elegan, biasakan merapikan naskah kita sebelum dikirimkan ke penerbit. Naskah yang rapi tentunya sedikit membuat jatuh hati penerbit pada naskah buku kita. Naskah buku yang isinya biasa-biasa saja akan menjadi elegan ketika RAPI.

Jika pada satu waktu naskah yang kita tulis seolah-olah tidak terkait satu sama lain, namun memiliki judul yang berdiri sendiri pada tiap Bab, jadikan saja naskah buku dalam bentuk Bunga Rampai, tutur pemenang Ketiga Lomba Kreatifitas Guru Tingkat SMA pada Porseni PGRI Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 ini.

Mengakhiri pertemuan, pak Roma menuliskan closing statementnya, Menyusun naskah buku adalah momen menikmati tulisan kita. Jatuh bangunnya kita dalam menulis akan dinikmati ketika memasuki tahap menyusun naskah-naskah yang terserak. Membiasakan diri membaca ulang dan menyunting naskah adalah tahap pembiasaan diri untuk untuk menghasilkan karya buku yang elegan. Seringkali ide yang terselip oleh tumpukan pikiran kita akan terungkit kembali dalam proses penyusunan naskah. Jadi, nikmatilah tahap menyatukan naskah-naskah buku sahabat-sahabat sekalian.

             



Tanggal Pertemuan : 24 Mei 2021

Resume ke : 14

Tema : Langkah Menyusun Buku

Narasumber : Yulius Roma Pantandean,S.Pd.

Gelombang : 18


Selasa, 25 Mei 2021

Resume ke 13 Belajar Menulis

 

MENULIS BUKU NONFIKSI





Menulis buku nonfiksi merupakan sebuah impian bagi saya. Menurut para penulis profesional menulislah apa yang anda sukai dan anda kuasai. Sebenarnya, saya lebih menyukai menulis fiksi. Tetapi, saya adalah seorang guru, sehingga tidak salah jika memiliki keinginan untuk bisa menulis sebuah buku nonfiksi yang  bisa digunakan di sekolah ataupun menjadi rujukan kepada teman-teman seprofesiku.

Materi pada pertemuan kali ini, dibawakan oleh seorang ibu yang berasal dari Kediri, memiliki sebuah karya yang sudah tembus di penerbit mayor. Beliau adalah ibu Musiin, M.Pd. yang akrab disapa bu Iin. Tema materinya adalah konsep buku nonfiksi. Seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998, juga merupakan founder organisasi swadaya masyarakat YAPSI yang berdiri sejak tahun 1991, serta founder PT In Jaya yang bergerak di bidang ekspedisi untuk pendistribusian produksi Indomarco dan Indolakto Pasuruan.

Awal materi, disajikan foto buku hasil karya beliau yang sudah terpajang di Gramedia, sebuah kebanggaan bagi seorang penulis jika bukunya bisa berada di barisan rak buku tersebut. Hal ini beliau lakukan untuk membakar semangat para peserta untuk bisa menelorkan sebuah buku yang nantinya bisa juga dipajang di Gramedia atau memiliki banyak pembaca.

Menjadi penulis, tentunya memiliki beberapa alasan. Tidak semua orang bisa menjadi penulis jika hanya berdiam dan berkhayal. Berikut adalah beberapa alasan mengapa orang ingin menulis. Pertama, penulis ingin mewariskan ilmu melalui buku yang dia tulis. Kedua,penulis ingin memiliki buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline, dan yang ketiga adalah penulis ingin mengembangkan profesinya sebagai seorang guru.

Dalam penulisan buku nonfiksi ada tiga pola yaitu :

1.    Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit), Contoh: Buku Pelajaran;

2.    Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses), Contoh: Buku Panduan;

3.    Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara).

Menulis buku nonfiksi hampir sama dengan menuis buku fiksi. Ada tahapan – tahapan yang harus dilalui oleh seorang penulis, tahapan tersebut adalah :

  1. Menentukan tema, misalnya tema parenting, pendidikan, motivasi, dan sebagainya;
  2. Menemukan ide. Ide bisa berasal darimana saja, bisa dari pengalaman pribadi ataupun dari pengalaman orang yang ada di sekitar kita;
  3. Merencanakan jenis tulisan;
  4. Mengumpulkan bahan tulisan;
  5. Bertukar pikiran;
  6. Menyusun daftar;
  7. Meriset;
  8. Membuat Mind Mapping;
  9. Menyusun kerangka.

Mengembangkan kerangka yang telah disusun memerlukan keterampilan agar tulisan yang dibuat dapat tertata dengan rapi. Menulis buku nonfiksi seharusnya memuat anatomi buku yang terdiri dari halaman judul, halaman daftar isi, halaman prakata, bagian /bab, halaman glosarium, halaman daftar pustaka, halaman indeks, dan halaman tentang penulis.

Selanjutnya, menulis draf, yaitu penulis menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas, tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan. Berikutnya adalah merevisi draf, yaitu penulis merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian serta memeriksa gambaran besar dari naskah. Dan terakhir adalah menyunting naskah (KBBI dan PUEBI).

Penulis kerapkali mengalami hambatan dalam menulis. Saya pun mengalami banyak hambatan dalam menulis. Hambatan- hambatan tersebut seperti hambatan waktu, hambatan kreativitas, hambatan teknis, hambatan tujuan, dan hambatan psikologis. dari beberapa hambatan diatas, sepertinya hambatan yang paling sering saya alami adalah hambatan psikologis.

Banyaknya hambatan yang sering dialami penulis, maka seorang penulis pun harus mampu untuk mengatasi hambatan –hambatan tersebut, dengan cara banyak membaca, mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber, harus disiplin menulis setiap hari, dan melakukan kegiatan yang menyenangkan sehingga muncul kembali gairah untuk menulis.

Musuh besar perubahan adalah diri sendiri. Apakah hal-hal hebat yang ada diri Bapak Ibu akan berlalu begitu saja tanpa bisa diambil oleh anak cucu kita. Keluarkan potensi hebat Bapak Ibu menjadi sebuah buku. Demikian closing statement dari penulis buku Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi.





Tanggal Pertemuan : 21 Mei 2021

Resume ke : 13

Tema : Konsep buku nonfiksi

Narasumber : Musiin, M.Pd.

Gelombang : 18

 

 

 

Resume ke 12 Belajar Menulis

 MENJADI PROOFREADING


Kelas belajar menulis yang saya ikuti sudah memasuki pertemuan ke 15, banyak sudah jurus jitu cara menulis, menumbuhkan ide menulis, bahkan sampai pada cara menerbitkan buku. Sebagai peserta, saya diharuskan menuliskan resume setiap pertemuan. Namun, rupanya rasa malas masih selalu merajai hatiku sehingga saya terlalu sibuk santai menikmati hayalan tanpa aksi nyata menyelesaikan tugas-tugasku.

Pertemuan ke 15 yang dipandu oleh ibu Rita wati bersama narasumber Bapak Susanto,S.Pd. dengan tema Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku. Baru hari ini saya buatkan resume. Tapi dalam hati selalu ada keinginanku untuk menyelesaikan semua resume di kegiatan ini.

Istilah proofreading adalah sebuah istilah asing di telingaku. Hal ini dikarenakan saya merupakan orang baru di dunia kepenulisan, dan jujur baru kali ini mendengar istilah tersebut. Saya lalu mencermati satu persatu kalimat yang mengartikan apa itu proofreading.

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan, demikian menurut penuturan bapak kelahiran Kebumen tersebut. Kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan selesai, lanjutnya. Itulah alasan mengapa para penulis professional selalu menyarankan ketika kita menulis, tidak perlu memperhatikan kesalahan penulisan atau pengetikan, karena ada masanya kita melakukan proses perbaikan tulisan sebelum dipublikasikan .

Memperbaiki tulisan, terutama  pengetikan huruf yang salah sering kualami, dan itu sudah menjadi kebiasaan saya untuk memperbaikinya pada saat menulis. Ternyata hal tersebut adalah sesuatu yang keliru. Maka dengan imu yang saya dapatkan di pelatihan ini, mulai sekarang saya berusaha untuk mengetik saja dan hanya sesekali melihat ke layar laptop. Untuk menghindari keinginan memperbaiki ejaan.

Melakukan proofreading sesungguhnya kita akan bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah karya tulis kita sudah bisa dimengerti atau justru berbelit-belit. Harapannya, setelah melewati tahapan proofreading, karya kita bisa lebih mudah dipahami oleh pembaca, demikian menurut bapak guru kelas SDN Mardiharjo ini.

Proofreading berbeda dengan editing. Mengedit dan mengoreksi adalah langkah berbeda dalam proses merevisi teks. Pengeditan dapat melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi. Proofreading sangat penting dilakukan karena sebuah tulisan akan menjadi menarik setelah melalui proses ini.

Menurut "penerbit deepublish" ada  beberapaa langkah dalam melakukan pengeditan dan proofreading, yaitu :

1.   Pengeditan Konten : merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian adalah langkah pertama;

2.    Pengeditan Baris : merevisi penggunaan bahasa untuk mengomunikasikan cerita, ide, atau argumen seefektif mungkin. Ini mungkin melibatkan perubahan kata, frasa dan kalimat serta penyusunan ulang paragraf untuk meningkatkan aliran teks adalah langkah kedua;

3. Menyalin Pengeditan, memoles kalimat individual untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Salinan dari editor tidak mengubah konten teks, tetapi jika kalimat atau paragraf ambigu atau canggung, mereka dapat bekerja dengan penulis untuk memperbaikinya, ini adalah langkah ketiga;

4. Proofreading : cek ejaan, pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI, konsistensi nama dan ketentuan, dan perhatikan judul bab serta penomorannya.

     Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Kesalahan pengetikan yang biasanya dianggap kesalahan kecil biasanya memberi dampak yang besar bagi pembaca. Terkadang pembaca merasa kurang menikmati tulisan karena adanya typo atau kesalahan dalam menulis, misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.

Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya. Cara mudah untuk memeriksanya adalah dengan melakukan tindakan menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F). Lalu, ketikkan tanda koma. Maka akan muncul highlight teks dengan warna kuning. Kesalahan tersbut akan muncul dan kita pun bisa memperbaikinya.

Penulis adalah EDITOR PERTAMA sekaligus PROOFREADER PERTAMA. Sehingga penulis sebaiknya melakukan editing dan proofreading pada tulisannya sebelum tulisan tersebut diserahkan ke penerbit.



Tanggal Pertemuan : 7 Mei 2021

Resume ke : 12

Tema : Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku

Narasumber : Susanto,S.Pd.

Gelombang : 18



Senin, 10 Mei 2021

Resume ke 11 Belajar Menulis

 Mudahnya Menulis Cerita Fiksi




Cerita fiksi adalah sebuah tulisan yang dihasilkan dari imajinasi atau khayalan penulis dengan cerita yang masuk akal. Cerita yang ada, biasanya terinspirasi dari kisah nyata dikehidupan ini, kemudian ditulis dengan beberapa perubahan sehingga hanya menyerupai cerita nyata.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sangat senang membaca buku cerita, apalagi dongeng anak yang mengisahkan kisah-kisah ajaib. Saat itu saya belum tahu jika buku yang sering kubaca termasuk dalam cerita fiksi. Di dalam kelas, hal yang paling saya senangi ketika guru memberikan tugas membaca buku cerita kemudian kami disuruh menceritakan kembali di hadapan teman-teman. Saya akan membusungkan dada tampil menceritakan semua kejadian yang ada di kisah yang baru saja kubaca.

Kegemaran membaca buku fiksi terus menjadi kebutuhan hingga saya menjadi guru. Gramedia adalah tempat favorit saya jika berkunjung ke mall. Tak lupa untuk membawa pulang satu atau dua buku fiksi. Buku-buku yang kubeli tidak bertahan lama di rak, karena setelah saya membacanya, saya akan dengan semangat menceritakan ke teman-teman tentang cerita dalam buku itu, sehingga teman-teman akan bergantian meminjamnya, hingga tidak tahu lagi buku itu sudah berada dimana.

Kecintaan dengan bacaan fiksi kemudian memantik keinginan untuk bisa memiliki sebuah buku fiksi, maka pada tahun 2019, saya mengikuti sebuah pelatihan dan berhasil menerbitkan novel yang berjudul April bukan bulan, dan di tahun 2020 bersama rekan -rekan menulis cerpen yang dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Perempuan yang menjeda kenangan.


Materi kali ini sangat menarik, karena saya sebagai penulis pemula tentu masih sangat membutuhkan pengetahuan tentang cara menulis fiksi yang baik dan benar. Pria kelahiran Sukoharjo, bertugas sebagai guru IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat, siang ini akan membagikan ilmunya kepada kami peserta pelatihan belajar menulis. Bapak Sudomo, S.Pt. dengan nama pena Momo DM. Seorang penulis fiksi yang sudah meraih beberapa penghargaan dibidang menulis, salah satunya yaitu sebagai juara 1 Lomba menulis cerpen dari interpretasi foto setting tempat yang diselenggarakan oleh Travel Agent Eazy Travel Jakarta tahun 2012.

           

Menampilkan slide dan penjelasan melalui pesan suara beliau memaparkan materinya dengan lugas. Sebagai peserta saya menyimak materi yang disajikan oleh bapak narasumber yang sudah menerbitkan beberapa karya fiksi ini. 

Menulis cerita fiksi bagi seorang guru memiliki empat alasan untuk melakukannya. Pertama, dalam Asesmen Kompetensi Minimun (AKM) memerlukan kemampuan literasi teks fiksi. Kedua, sebagai cara menemukan passion kita dalam bidang kepenulisan. Ketiga, sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri dari sebuah luka dengan menitipkan segala sesuatu yang ada pada diri kita pada tokoh-tokoh cerita. Keempat, sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan menulis.

Untuk bisa menulis fiksi, penulis hendaknya memenuhi syarat. Syaratnya adalah harus banyak membaca cerita fiksi, lalu memiliki keinginan dan kemampuan untuk melakukan riset. Selanjutnya, penulis harus mampu memahami dasar- dasar menulis cerita fiksi, serta mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Tak lupa, untuk tetap menjaga komitmen, niat, dan konsistensi menulis.

Cerita fiksi, ada beberapa bentuk yang dapat dibedakan berdasarkan ciri-cirinya. Nah, apa sajakah itu? Berikut kita lihat perbedaannya.

  1. Fiksimini, adalah sebuah tulisan fiksi yang terdiri dari 6 sampai 10 kata.
  2. Flash fiction, adalah tulisan fiksi yang terdiri dari 50 sampai 100 kata.
  3. Fentigraf, adalah tulisan fiksi yang terdiri dari 3 paragraf.
  4. Cerpen, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata dibawah 7500.
  5. Novelet, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata antara 7500 sampai 17500.
  6. Novela, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata antara 17500 sampai 40000.
  7. Novel, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata diatas 40000.

Membentuk sebuah cerita fiksi memerlukan unsur-unsur pembangun cerita. Sebelum menulis tentunya harus menentukan tema terlebih dahulu, kemudian ada premis, alur atau plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Kesemua unsur tergabung dan saling berhubungan sehingga membentuk satu kesatuan untuk menjadi sebuah cerita fiksi.

Lalu, bagaimana kiat menulis cerita fiksi? Pertama yang harus ada adalah niat, karena dengan niat kita bisa menjadi termotivasi untuk memulai hingga menyelesaikan tulisan. Kedua adalah banyak membaca referensi cerita fiksi yang ditulis oleh orang lain, sehingga kita menemukan bahan berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan. Ketiga, Ide dan genre. Ketika ide itu datang, segera tuliskan dan nanti dilain kesempatan bisa dikembangkan dengan imajinasi, sedangkan genre bisa kita pilih sesuai dengan kesukaan kita, apakah cerita tersebut bergenre anak-anak, remaja, ataupun dewasa.

Ketika ketiga hal tersebut diatas sudah ada, maka langkah berikutnya adalah membuat outline, yang berisi kerangka tulisan dengan menuliskan unsur-unsur pembangun cerita yang akan ditulis. Kemudian mulailah menulis dengan mengenalkan tokoh dan memunculkan konflik dengan menggunakan imajinasi dan logika, dan jangan lupa untuk memberikan ending cerita yang mengesankan.

Setelah menulis, proses selanjutnya adalah swasunting, yaitu proses penyuntingan tulisan dengan memperhatikan kata baku, kesalahan pengetikan, dan siapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)  untuk membantu membenarkan kesalahan penulisan.

Proses terakhir dalam menulis fiksi yaitu publikasi. Semua orang memiliki keinginan agar tulisannya bisa dibaca orang lain. Untuk mempublikasikan tulisan tersebut, bisa diterbitkan di penerbit indie atau penerbit mayor.





Tanggal Pertemuan : 3 Mei 2021

Resume ke : 11

Tema : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber : Sudomo, S.Pt.

Gelombang : 18


Sabtu, 08 Mei 2021

Resume ke 10 Belajar Menulis

 Tips Tembus Penerbit Mayor

                          

Mendung pagi hari sangat menggoda raga ini untuk tetap di pembaringan. Apalagi beberapa hari yang lalu berderet kegiatan yang harus diikuti dan menyelesaikan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang guru.

Dengan tekad yang kuat, saya mulai memainkan jemari di atas tombol keyboard laptop yang selalu setia menerima hentakan demi hentakan halus untuk menciptakan serangkaian kalimat yang siap untuk dibaca.

Membuat resume belajar menulis gelombang 18 harus selesai pagi ini, sudah ada beberapa pertemuan yang belum sempat saya tuliskan resumenya. Saya memulai menuliskan resume pagi ini dengan materi yang disajikan pada pertemuan ke 12. Wah, saya banyak ketinggalan. Harus tancap gas nih kalau tidak mau jauh tertinggal.

Pertemuan ke 12 diisi oleh seorang narasumber yang berasal dari salah satu penerbit mayor yang sudah banyak menerbitkan buku dan mengorbitkan penulis-penulis handal. Tentunya juga memantik keinginan saya untuk bercita-cita suatu saat tulisanku bisa diterbitkan oleh penerbit ini. Beliau adalah Bapak Joko Irawan Mumpuni, merupakan Direktur Penerbit ANDI, Ketua I, IKAPI DIY , Penulis buku, bersertifikat BNSP dan merupakan Assesor BNSP.

Dalam dunia pasar buku, terdapat dua jenis buku yaitu buku teks dan nonteks. Yang sering kita temui di dunia kerja adalah buku teks yang terdiri dari buku pelajaran dan buku perguruan tinggi. Sedangkan buku nonteks terdiri dari buku-buku fiksi, buku-buku popular, buku petunjuk praktis, buku masak, dan sebagainya. Buku ini biasanya dimiliki karena kecintaan membaca cerita yang dijadikan media hiburan bagi sebagian orang.

Untuk menerbitkan sebuah buku. Penerbit mayor memiliki kriteria yang menjadi pertimbangan demi mencegah kerugian-kerugian yang akan terjadi, karena sejatinya sebuah penerbit bertujuan untuk mengejar keuntungan.

Kriteria yang diperlukan dibagi atas empat kuadran.

  1. Pertama, yaitu temanya tidak populer tetapi penulisnya populer. Naskah yang termasuk dalam kuadran ini tentunya akan diterbitkan oleh penerbit mayor karena sudah diyakini akan laku di pasaran.
  2. Kedua, temanya populer dan penulisnya populer. Penerbit tidak akan ragu untuk menerbitkan naskah di kategori ini, karena sudah menjanjikan keuntungan besar dan akan laku keras di pasaran.
  3. Ketiga,  temanya populer meskipun penulisnya bukan populer. Kategori ini cocok untuk penulis pemula, yang belum pernah sama sekali menerbitkan buku yg diterima di penerbit mayor.Hal ini dapat membantu penulis untuk menjadi populer dan naskah berikutnya tentu akan diterima oleh penerbit mayor.
  4. Keempat, temanya tidak populer dan penulisnya tidak populer. Naskah yang ada di kuadran ini pasti akan ditolak oleh penerbit mayor, karena tidak bisa menjanjikan keuntungan bagi penerbit maupun ke penulis.

Sebagai penulis pemula yang belum pernah diterbitkan bukunya oleh penerbit mayor, meskipun sudah seringkali mengirimkan naskah dan yang terjadi tidak pernah diterbitkan, malah dikembalikan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ya, itu disebabkan penerbit mayor memiliki sistem penilaian, yaitu :

  1. Peluang potensi pasar dengan porsi 50- 100% menjadi penilaian yang tidak bisa diabaikan. Semakin tinggi peluang laku, maka semakin besar potensi untuk diterbitkan oleh penerbit mayor.
  2. Reputasi penulis 100-10%. Penulis terkenal atau memiliki reputasi yang bagus pasti banyak pembaca yang akan membeli bukunya.
  3. Kelimuan 30%.
  4. Editorial 10%.

Semua penulis tentu berkeinginan naskahnya diterbitkan oleh penerbit mayor, karena ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh oleh penulis, yaitu peningkatan finansial, peningkatan karir, kebutuhan batin, dan reputasi.

Untuk menerbitkan sebuah buku, ada beberapa langkah yang ditempuh oleh seorang penulis, yaitu naskah yang sudah jadi dikirimkan ke penerbit, setelah naskah dianggap layak untuk diterbitkan oleh penerbit, maka penulis akan diminta untuk mengirimkan naskah lengkap dan menandatangani kontrak perjanjian dengan penerbit. Kemudian buku dicetak dalam jumlah besar untuk diserahkan ke penyalur yaitu toko buku atau pasar buku dan berharap buku tersebut bisa sampai kepada pembaca.

Di Indonesia, sebuah penerbit mayor akan berhati-hati jika ingin menerbitkan buku, karena melihat kondisi masyarakat di negara kita yang memiliki minat baca yang sangat rendah. Ada kekhawatiran jika buku yang diterbitkan tidak laku di pasaran. Ini terjadi akibat kecenderungan masyarakat Indonesia lebih suka menonton daripada membaca. Hal ini tentu berpengaruh pada pasar buku, ditambah lagi kurangnya minat tulis dan banyaknya pembajakan yang seolah dibiarkan sehingga tidak ada apresiasi hak cipta.

Nah, jika Anda ingin menerbitkan buku, maka perlu diperhatikan pemilihan penerbit yang baik. Bagaimana memilih penerbit yang baik? berikut tipsnya.

  1. Memiliki visi dan misi yang jelas
  2. Memiliki bussines core lini produk tertentu
  3. Pengalaman penerbit
  4. Jaringan pemasaran
  5. Memiliki percetakan sendiri
  6. Keberanian mencetak jumlah eksemplar
  7. Kejujuran dalam pembayaran royalti.

    Mengutip kalimat Pramudya, "Tahulah kau, mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadai, sampai jauh, jauh dikemudian hari".






Tanggal Pertemuan : 30 April 2021

Resume ke : 10

Tema : Penerbit Mayor

Narasumber : Joko Irawan Mumpuni

Gelombang : 18







Senin, 03 Mei 2021

Resume ke-9 Belajar Menulis

 Mengenal Penerbit Mayor



Menembus penerbit mayor tentu adalah hal yang sangat membanggakan bagi seorang penulis, apalagi jika penulis tersebut merupakan penulis pemula. Mengapa hal tersebut dianggap demikian? Tentu saja karena buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor adalah buku yang dianggap berkualitas dan dapat diterima dengan baik oleh pembaca.

Siang ini, kelas pelatihan belajar menulis gelombang 18 di grup WA menghadirkan seorang narasumber hebat yang sudah lama bergelut di penerbit mayor dan bersedia menerima untuk diterbitkan tulisan peserta yang tentunya memenuhi syarat.

Narasumber hebat ini adalah bapak Edi S. Mulyanta S.Si, M.T. Beliau berkarir di penerbit Andi sebagai Publishing Consultant & E-Book Development, selain itu beliau juga merupakan Founder Pasar Buku Digital ebukune.my.id dan bukudigital.my.id. Pengalaman beliau di dunia penerbitan dan penulisan hampir 20 tahun. Waktu yang cukup lama untuk mendapatkan pengalaman yang bisa dibagi kepada peserta pelatihan.

Beberapa tulisan beliau yang telah terbit yaitu How to make money in BIG DATA tahun 2021, Lebih Mahir Word 2019, Untuk Penulisan Ilmiah, 2019, Teknik Modern Fotografi Digital 2007, dan masih banyak lagi karya beliau yang bisa kita lihat di https://scholar.google.co.id/citations?user=tYwUNqsAAAAJ&hl=en&oi=ao.

Memulai pemaparan materi bapak Edi menjelaskan perkembangan dunia penerbitan berkaitan dengan adanya pandemi covid-19 yang melanda dunia khususnya Indonesia yang sudah lebih setahun memberikan dampak menurunnya pemasukan industri penerbitan, dimana dunia penerbitan adalah dunia bisnis semata, yang tentunya diikuti dengan idealisme di dalamnya. Dalam dunia bisnis, nomor satu yang dicari adalah keuntungan materi.

Dengan berlakunya PSBB dan pembatasan kegiatan masyarakat di beberapa daerah, dengan otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas hanya berkisar 80-90% penurunannya. Outlet yang tertutup menjadikan beberapa penerbit ikut terimbas, sehingga mereposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti bersemi di Toko Buku, lanjut narasumber.

Untuk tetap bertahan dimasa sekarang ini, penerbit berusaha membuka saluran-saluran promosi baru untuk masih tetap mengobarkan semangat literasi di perbukuan. Saluran-saluran digital dapat menjadi alternatif untuk tetap berkembang mendistribusikan ilmu pengetahuan. Mengembangkan channel TV Andi di Youtube, dan mengembangkan Production House Andi Academy, adalah beberapa cara untuk tetap mengobarkan semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penerbitan buku.

Sebagai penerbit, memiliki tugas untuk mendapatkan naskah yang tentunya dapat diproses menjadi buku untuk menghasilkan keuntungan, sehingga bisnis penerbitan tersebut dapat berkembang dan meningkatkan literasi bagi masyarakat secara umum. Sementara tugas penulis adalah menghasilkan naskah buku yang memenuhi kriteria bagi penerbit, kemudian penerbit akan mengolah naskah buku tersebut menjadi komoditas berupa buku cetakan maupun buku elektronik dengan menyesuaikan perkembangan jaman. Hampir 70% buku yang terbitkan penerbit Andi adalah dengan tema pendidikan, sisanya adalah tema umum 30%.

Pada dasarnya kualitas terbitan penerbit skala minor dan mayor itu sama. Terkadang penerbit mayor mempunyai team Riset dan Development, sehingga lebih fokus pemilihan materi sampai ke eksekusi pemasarannya. Hal ini lah yang membedakan penerbit mayor dan minor, penerbit mayor mempunyai tool-tool pemasaran yang lebih banyak, tool Riset dan Development yang fokus pengembangan materi.

Beberapa Undang-undang yang memperkuat posisi buku ada di UU 12/2012 Perguruan Tinggi Pasal 46 ayat 2 yang menyatakan bahwa Hasil Penelitian wajib disebarluaskan dan dipublikasikan (dalam bentuk Buku Ber ISBN). PermenPAN 26/2009 Jabfung Guru dan Angka Kredit, Pasar 11 Ayat c-2 Publikasi Buku ber ISBN.

 

Penerbitan buku saat ini sudah mengikuti perkembangan teknologi yaitu penerbitan buku digital. Begitupun juga dengan penerbit Andi untuk mengantisipasi perkembangan jaman yang semakin nyata terlihat arahnya ke depan.

Narasumber mengajak peserta untuk mencoba bertransaksi buku digital, supaya tidak ketinggalan jaman, karena buku digital ini akan menyatukan mindset penerbit mayor maupun minor, sehingga tidak ada lagi dikotomi hal tersebut. Yang ada adalah penerbit dengan kekhasan visi dan misi masing-masing, saling mengisi untuk meningkatkan literasi bangsa ini. Untuk bisa melihat percontohan buku digital dan proses pemasarannya di http://bukudigital.my.id atau dapat dilihat di http://ebukune.my.id.

Sebelum menutup pertemuan, beberapa pertanyaan dari peserta pelatihan dijawab dengan lugas oleh narasumber, diantaranya tips untuk bisa menerbitkan buku di penerbit mayor. Peserta diharapkan dapat menuliskan rencana penulisan dengan target market yang dituju. Hal ini perlu dipersiapkan  karena membutuhkan keahlian yang berbeda dengan sebelumnya. Selanjutnya membuat proposal ke penerbit yang isinya garis besar tulisan yang dapat ditawarkan ke penerbit. Penerbit akan melihat Tema, Judul Utama, Outline tulisan, pesaing buku dengan tema yang sama, positioning buku (harga, usia pembaca, gender, pendidikan, dll).



Tanggal Pertemuan : 28 April 2021

Resume ke : 9

Tema : Penerbit Mayor

Narasumber : Edi S. Mulyanta S.Si, M.T.

Gelombang : 18


POSTINGAN UNGGULAN

MATERI 1

BENTUK-BENTUK MUKA BUMI Hampir sepanjang sejarah selama ratusan tahun kita telah mengetahui dan juga meyakini bahwa bentuk planet termasuk...