Selasa, 27 April 2021

Resume ke-7 Belajar Menulis

 

Mental dan Naluri Penulis

Menjadi seorang penulis tentunya butuh modal. Modal yang utama yaitu kemauan. Ya, adanya kemauan untuk menulis menjadi sebuah jembatan untuk melahirkan sebuah naskah. Ketika seseorang sudah memiliki kemauan untuk menulis, hal selanjutnya yang dibutuhkan adalah mental. Seorang penulis apalagi bagi penulis pemula, mental itu sangat mempengaruhi. Karena ketika mental tidak siap, maka kapan saja kemauan untuk menulis itu hilang dan entah bagaimana lagi caranya untuk mendapatkan kembali kemauan itu.

Sebagai penulis pemula, saya perlu mengetahui bagaimana mengelola mental pribadi supaya memiliki mental baja, yang siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin ketika saya menerima pujian atas tulisanku atau pun kritikan dan bahkan hujatan yang bisa menurunkan semangat menulis saya.



Pada pertemuan ke sembilan di kelas belajar menulis ini, materi yang akan dipaparkan oleh narasumber dengan tema “Mental dan Naluri Penulis” yang akan dibawakan oleh seorang wanita muda, cantik dan berbakat dengan sejuta talenta, demikian dikatakan oleh host, dan saya pribadi setuju. Narasumber kali ini benar-benar masih sangat muda jika dibandingkan dengan saya.

Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. adalah salah satu guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Kelahiran Subang, 23 Mei 1990. Beliau aktif di MGMP dan bidang literasi. Dari beberapa hasil karyanya, terdapat tulisan yang bisa tembus ke penerbit mayor. beberapa penghargaan di bidang literasi pun kerap didapatkannya. 

Menurut KBBI mental adalah bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Sehingga menurut narasumber mental penulis merujuk pada kondisi psikologis atau batin si penulis itu sendiri. Seorang penulis harus memiliki mental dan berdasarkan analisisnya, dilihat dari keseimbangan teknik dan mental penulis, maka ada 4 Tipe Penulis, yaitu dying writer, dead man, sick people, dan alive. Mmm, kira-kira saya masuk tipe yang mana nih. Makin penasaran menyimak lanjutan materinya.

Tipe pertama adalah Dying Writer atau penulis yang sekarat. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang lemah secara teknik pun lemah mentalnya sebagai seorang penulis. Penulis ini biasanya rajin ikut pelatihan menulis namun tidak mampu menghasilkan karya karena merasa bingung bagaimana harus menulis, mendapatkan ide, dan sebagainya. Sehingga menulis tinggal mimpi yang tak kunjung jadi nyata.

Tipe kedua adalah Dead Man. Sesuai namanya, tulisan dari kategori ini "mati". Tidak diketahui keberadaannya. Tulisannya dibuat dalam folder laptop ataupun di media lain dan tidak dipublikasikan. Alasannya mereka kurang berani ataupun malu mendapatkan kritikan dari pembaca. Padahal ilmu tentang kepenulisannya sudah mumpuni.

Tipe ketiga adalah Sick People. Orang-orang dalam kelompok ini adalah yang masih lemah teknik menulisnya namun sudah cukup memiliki mental seorang penulis, sehingga sudah berani mempublikasikan tulisannya. Mereka sudah siap jika ada yang mengkritik, mengomentari tulisan mereka dan sejatinya sadar masih terdapat kekurangan dalam tulisannya. Misal typo, penggunaan kata yang sama berulang kali, paragraf yang terlalu panjang, dan sebagainya. Nah, sepertinya saya di tipe ini nih, sudah punya tulisan tapi masih butuh tempelan dari kekurangan-kekurangan yang saya miliki.  Dan menurut ibu narasumber obatnya mudah, yaitu terus menulis. Dengan meningkatkan jam terbang dalam menulis penyakit itu akan sembuh. Karena semakin banyak menulis, semakin banyak review, semakin banyak baca, sehingga bisa meminimalkan kesalahan dalam penulisan karya.

Tipe keempat merupakan kategori terbaik, yaitu Alive, yaitu penulis yang tulisannya hidup dan senantiasa berkarya seperti jantung yang terus berdetak saat pemiliknya bernyawa. Orang-orang dalam kelompok ini sudah bisa dikatakan "ahli" menulis (kuat teknik) serta kuat mentalnya. Cirinya mudah. Meski tingkatan ahli ada pemula, menengah dan sangat ahli, tapi secara umum kita bisa mengenali mereka. Misal saat menulis sudah seperti kebutuhan primer seperti makan. Ibaratnya, jika tak makan akan lapar. Begitu pula mereka yang hidup dalam menulis. Akan lapar menulis bahkan jika sehari saja tak membuat tulisan. Ciri yang paling kentara dari kelompok ini tentu saja seperti juara lomba menulis, bukunya tembus di jurnal nasional, di media massa, dsb. Kelompok Alive ini termasuk kategori pembelajar sejati. Selalu berproses. Mampu hadapi tantangan menulis

Teknik menulis akan membaik jika kita sering berlatih menulis. Mental penulis akan terbentuk ketika kita terus melatih diri mempublikasikan tulisan kita untuk dibaca oleh orang lain.

Pembahasan selanjutnya yaitu naluri penulis. Menurut KBBI, na·lu·ri n 1 dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting; 2 Psi perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup;

Orang yang memiliki naluri penulis, akan mengoptimalkan seluruh inderanya sehingga bisa menghasilkan karya berupa tulisan. Setiap ada kejadian di sekitarnya maka hatinya akan tergerak untuk membuat tulisan. Itu adalah contoh sosok yang memiliki naluri penulis.

Maka, Kenali diri Anda dan lingkungan Anda, lalu buatlah tulisan. Maka karya karya yang kita hasilkan akan mengasah naluri penulis dalam diri kita. Jangan patah semangat, menulislah terus, maka tulisanmu akan menemui takdirnya. Demikian kalimat penutup narasumber, yang membuat semangat menulis kembali berkobar dalam diriku.

 


Tanggal Pertemuan : 23 April 2021

Resume ke : 7

Tema : Mental dan Naluri Penulis

Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. 

Gelombang : 18

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN UNGGULAN

MATERI 1

BENTUK-BENTUK MUKA BUMI Hampir sepanjang sejarah selama ratusan tahun kita telah mengetahui dan juga meyakini bahwa bentuk planet termasuk...