Rabu, 21 Juli 2021

Resume Ke 20 Belajar Menulis Gelombang 19

 

Menerbitkan Naskah di Penerbit Indie



Tanggal Pertemuan : 21 Juli 2021

Resume ke : 20

Tema : Mengenal Penerbit Indie

Narasumber : Mukminin, S.Pd., M.Pd.

Gelombang : 19    

    Entah apa yang merasukiku. Mungkin itu kalimat yang pantas saya ungkapkan malam ini. Keasyikan menyiapkan materi untuk pembimbingan CASN Nakes untuk dipaparkan besok sore, membuat saya lupa bahwa malam ini ada pertemuan di kelas belajar menulis. 

    Handphone saya biarkan tergeletak di meja dan hanya fokus ke laptop. Setelah ada menerima telepon yang masuk, barulah saya melihat pesan di WA. ternyata sudah ada lebih seratus pesan disana, dan saya tertuju pada grup kelas belajar menulis. "Haaa..." mata saya membelalak, sadar jika malam ini ternyata ada jadwal belajar. Tentu saja saya segera pindah channel, untuk sementara power point untuk bimbel besok saya tutup dulu, dan mulia sibuk membaca pesan yang sudah berjejer rapi dan siap dieksekusi untuk dijadikan bahan resume malam ini.

    Ditemani oleh bapak Bambang Purwanto yang bertugas menjadi moderator di pertemuan kali ini. Kelas akan diisi materi dengan tema mengenal penerbit Indie oleh bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd. Nama yang sudah tidak asing kudengar, karena sejak mengenal kelas belajar menulis dari gelombang 17, beliau selalu wara wiri mempromosikan pelatihan-pelatihan yang berkenaan dengan kepenulisan serta penerbit yang beliau kelola.

 Untuk lebih mengenal siapa beliau, Mr.bams membagikan link biodata narasumber https://cakinin.blogspot.com/2020/10/curiculum-vitae.html . Dari biodata tersebut menjelaskan bahwa bapak pemateri kita adalah Guru (PNS ) di SMP I Kedungpring Lamongan sejak 1989-2021 (31 th) sampai sekarang. Bergelut di dunia penerbitan yaitu Penerbit Kamila Press Lamongan. Soal karya, tak perlu ditanyakan lagi. Cak Imin sudah menerbitkan banyak buku solo dan buku antologi.

        Awal materi, kami dipandu untuk membaca doa, kemudian dilanjutkan pemaparan materi oleh penulis buku Jurus Jitu Menjadi Penulis Handal Bersama Para Pakar ini dengan lugas. Menurut beliau pada zaman milineal ini semua orang bisa menulis dan menerbitkan buku. Baik sebagai pelajar, mahasiswa, pegawai, guru, dosen, maupun wiraswasta. Menulis dan menerbitkan buku itu mudah, tidak serumit yg kita bayangkan. Apalagi sebagai seorang guru pasti bisa menulis baik fiksi maupun karya ilmiah. Guru memiliki banyak kisah dan pengalaman inspiratif tersebut perlu kita tulis dan terbitkan buku  menjadi yg bermanfaat bagi orang lain/ pembaca. 



        Ketekunan dan perjuangan sangat dibutuhkan untuk bisa terlatih menulis. Selain itu, perlu juga tekad dan motivasi tinggi agar tidak goyah saat menjalani proses menulis. Supaya kita terus semangat menulis, banyak kata-kata mutiara tentang menulis bisa menjadi motivasi agar sukses dalam berkarya, setelah itu mari kita pahami cara menulis dan menerbitkan buku, lanjutnya.

    Untuk memotivasi peserta kelas belajar menulis Cak Imin memberikan contoh kalimat motivasi dari orang-orang bijak, slah satunya ungkapan Imam Al-Ghazali "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis". 

    Saat penulis ingin menerbitkan bukunya dengan tepat, maka perlu melalui beberapa tahapan menulis. Nah, apa saja tahapan tersebut? narasumber pun memaparkan secara gamblang tahapan yang harus dilalui penulis untuk menerbitkan bukunya dengan tepat, yang terdiri dari lima tahapan.

1. Prawriting

    a. Tahap awal penulis mencari ide apa yang akan ditulis dg peka terhadap sekitar ( Pay attention).

    b. Penulis hrs kreatif menangkap fenomena yg terjadi di sekitar untuk menjadi tulisan.

    c. Penulis banyak membaca buku.

2. Drafting

        Penulis mulai menulis naskah buku sesuai  yang dengan apa yang disukai ( pasion). Boleh menulis artikel, cerpen, puisi, novel dan sebagainya dengan penukh kreatif merangkai kata, menggunakan majas, dan berekpresi untuk menarik pembaca.

3. Revisi

    Setelah naskah selesai maka kita lakukan revisi naskah. Merevisi tulisan mana yang baik dicantumkan, naskah mana yang perlu dibuang,  naskah mana yg perlu ditambahkan. 

4. Editting/ Swasunting

    Setelah naskah kita revisi maka masuk tahapan editting. Penulis melakukan pengeditan. Hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada kalimat. Tahap ini boleh dikatakan sebagai "Swasunting" yaitu menyunting tulisan sendiri sebelum masuk penerbit, kan malu kalau banyak kesalahan. Maka penulis dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EBBI. 

5. Publikasi  

    Jika tulisan Anda yg berupa naskah buku sudah yakin, maka Anda memasuki tahap Publikasi atau penerbitan  buku.

    Banyak penulis, naskahnya sudah selesai, namun bingung untu menerbitkan bukunya. Nah, melalui materi malam ini, kita diperkenalkan beberapa penerbit yang siap menerbitkan naskah kita yaitu penerbit Independen ( penerbit Indie), diantaranya :

✓ Oase

✓ Gemala

✓ YPTD dan 

✓ Kamila Press Lamongan.

        Sebagai penulis, perlu kita mengenal jenis-jenis penerbit. Ada dua jenis penerbit, yaitu penerbit Indie dan penerbit Mayor. Berikut perbedaan antara keduanya.

1.  Jumlah Cetakan di penerbit mayor. 

# Penerbit mayor  mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku.

#Penerbit indie : hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.

2.  Pemilihan Naskah yang Diterbitkan

# Penerbit mayor : 

Naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum menerbitkan sebuah naskah. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan.

# Penerbit indie : 

Tidak menolak naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi, naskah tersebut pasti kami terbitkan. Kami adalah alternatif baru bagi para penulis untuk membukukan tulisannya.

3.  Profesionalitas

# Penerbit mayor : 

Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan SDM di perusahaan besar mereka.

# Penerbit indie : kami pun profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit Bapak Ibu dan Saudara-saudara. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah penerbitan. Kadang murah Cover kurang bagus, kertas dalam coklat kasar bukan bookpaper ( kertas coklat halus). Kami jaga mutu Cover bagus cerah mengkilat isi buku kertas cokal halus awet ( bookpapar).

4.  Waktu Penerbitan

# Penerbit mayor : 

Pada umumnya sebuah naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui. Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.

# Penerbit indie :

 Tentu berbeda kami akan segera memproses naskah yang kami terima dengan cepat. Dalam hitungan minggu bukumu sudah bisa terbit. Karena memang, kami tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini dan itu. Kami menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga kami tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.

5.  Royalti

# Penerbit mayor : 

kebanyakan penerbit mayor mematok royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku.

# Penerbit indie : 

umumnya 15-20%  dari harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis lewat fb, Instagram, wa grup, Twitter, status, dll

6. Biaya penerbitan

# Penerbit mayor : 

Biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit. 

# Penerbit indie : 

Berbayar sesuai dg aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang  lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yg diterbitkan tidak sama.

        Diawal perkenalan tadi, bapak Mukminin sudah mengenalkan nama penerbit indie miliknya, yaitu Kamila Press Lamongan. Selanjutnya, beliau memberi perkenalan lebih jauh penerbitnya untuk menjadi referensi peserta kelas belajar menulis untuk menerbitkan bukunya. 

       Penerbit KAMILA PRESS LAMONGAN melayani cetak buku, dengan jasa ISBN,  editing,  Lay out, dan  design cover buku  dengan harga terjangkau. 

Adapun syarat-syarat penerbitan di KAMILA PRESS LAMONGAN:

1. Kirimkan naskah lengkap mulai judul, kata pengantar, daftar isi, naskah lengkap sesuai urutan daftar isi, daftar pustaka, biodata penulis dg fotonya dan Sinopsis ( ditempatkan di cover belakang). Kalau ada Endors dari pakar ( orang ahli).

2. Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf Arial, calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file kirim ke WA beliau atau di email gusmukminin@gmail.com

 3. Untuk judul dan Cover. 

a. Untuk judul kalau kurang pas, tim penerbit akan membantu mengusulkan kepada penulis judul yang menarik.  

b. Cover buku boleh  sudah penulis buat, sehingga penerbit tinggal memoles supaya nampak cantik dan menarik sesuai kesepakatan penulis. 

c. Cover minta dibuatkan penerbit. Tim Kamila Press lamongan pun siap untuk membantu. 

        Menerbitkan buku di Penerbit KAMILA PRESS LAMONGAN, akan mendapatkan fasilitas dibuatkan cover buku, layout, edit dan ISBN penulis juga dapat PO (Pre Order) promo buku dengan harganya serta dapat sertifikat dari penerbit yang kerja sama dengan  pencetakan.

        Sebagai bahan pertimbangan berikutnya, pemilik penerbit press lamongan juga menjelaskan biaya cetak buku  A5, kertas "Bookpapar (coklat halus)", termasuk biaya ISBN, Layuot, edit, cover buku: 

A. 60 halaman: 

#  Cetak 5 buku/ eksp. =  566.000

# Cetak 10 buku/ eksp. =  632.000, 

plus ongkir

B. 70 hlm:  

#  Cetak 5 buku = 570.000

# Cetak 10 buku = 650.000,

 Plus Ongkir

C. 85 hlm : 

 # Cetak 5 buku = 580.000

# Cetak 10 buku = 

660.000

D. 90 hlm:

# Cetak 5 buku = 600.000

# Cetak 10 Buku = 715.000

E. 100 hlm: 

# Cetak 5 buku = 635.000

# Cetak 10.Buku = 725.000

F. 125 hlm: 

# Cetak 5 buku = 650.000

# Cetak 10 buku = 751.000

G. 150 hlm= 

# Cetak 5 buku = 665.000

# Cetak 10 buku = 800.000

H. 200 hlm: 

# 5 buku = 695.000

# 10 buku = 841.000

I. 250 hlm:

# Cetak 5 buku = 725.000

# Cetak 10 buku = 900.000

J. 300 hlm:

# Cetak 5 buku = 753.000

# Cetak 10 buku = 957.000

        SETELAH CETAK 10 BUKU DENGAN JUMLAH HALAMAN DAN HARGA TERSEBUT, Lebihnya dihitung harga cetak ulang :

1.  Cetak buku 60 hlm Harga @ 20.000

2. Cetak buku 70-75  hlm harga  @21.000

3. Cetak buku 100 hlm. Harga @ 23.500

4. Cetak buku 140 hlm harga @ 27.000

5. Cetak buku 150 hlm @ 30.000

6. Cetak buku   250 hlm. Harga @ 40.000

7. Cetak buku  300 hlm. Harga @  45.000

    

        Sebagai penulis pemula, untuk menembus penerbit mayor merupakan hal yang cukup sulit, sehingga penerbit indie menjadi solusi untuk mewujudkan mimpi kita untuk menerbitkan buku hasil karya tulis sendiri. Tentu sangat bangga jika naskah yang sudah kita tulis sudah menjadi sebuah buku ber ISBN. 

        "Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak". - Ali bin Abi Thalib

    






Senin, 19 Juli 2021

Resume ke 19 Belajar Menulis Gelombang 19

 TIPS MENULIS BUKU DARI KARYA ILMIAH



Tanggal Pertemuan : 19 Juli 2021

Resume ke : 19

Tema : Menulis Buku dari Karya Ilmiah

Narasumber : Noralia Purwa Yunita, M.Pd.

Gelombang : 19    

        Ditengah kesibukan menyiapkan perayaan Idul Adha esok hari, malam ini tanggal 19 Juli 2021, kelas belajar menulis di grup WA yang diprakarsai Om Jay tetap dibuka. Sambil menyiapkan keperluan anak-anak berlebaran besok, saya tetap ingin fokus untuk menyimak materi dan menuliskan resumenya, meskipun jaringan malam ini agak lambat. 

    Alhamdulillah, malam ini kami bisa berkumpul bersama saudara di rumah orang tua untuk merayakan idul adha tahun ini. Anak-anak dengan riang bermain bersama saudara sepupunya. Mereka lama tidak bersua, sehingga pertemuan kali ini sangat membahagiakan mereka, juga bagi saya pribadi. Saya pun memilih menyimak materi di dalam kamar supaya bisa fokus sambil sesekali mengikuti lapal takbir yang terdengar dari mesjid yang tak jauh dari rumah ibu. 

    Pertemuan ke 4 kelas belajar menulis di gelombang 19 dengan tema menulis buku dari karya ilmiah, dibawakan oleh seorang narasumber berprestasi. Beliau adalah ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd. didampingi oelh ibu Aam Nurhasanah seorang guru blogger.

    Narasumber merupakan peraih Juara harapan 1 dalam lomba karya tulis di Universitas Negeri Semarang, program pendanaan DIKTI pada program kreativitas mahasiswa tingkat nasional, serta beberapa prestasi lainnya. Seorang guru blogger dengan beberapa karya tulis yang sudah diterbitkan, dan salah satu karyanya tembus di penerbit mayor PT Andi Offset. Lebih lengkap profil beliau dapat dilihat melalui https://drive.google.com/file/d/1oHk-MJUfcYYbo_ZCMGXINK_GEIGMiOAw/view?usp=drivesdk .

    Menurut Eko Susilo, M., Karya tulis ilmiah adalah artikel yang diperoleh sesuai dengan sifat ilmiah dan didasarkan pada observasi, evaluasi, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan bahasa bersantun dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya.

    Seorang guru tentu sudah pernah membuat karya tulis ilmiah, baik itu skripsi saat kuliah S1, atau tesis saat menempuh pendidikan S2, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) saat mengajar. Semua karya tersebut dibuat sekedar untuk memenuhi tuntutan tertentu. 

    "Ketika sedang kuliah S1, S2 atau S3 pembuatan KTI tujuannya semata hanya untuk memenuhi prasyarat agar dapat lulus dan mendapatkan gelar, selebihnya jika sudah disidangkan atau telah dilakukan penilaian, KTI sudah pasti dibiarkan tergeletak begitu saja di rak Perpustakaan atau bahkan di gudang", ujar ibu narasumber.

    "Begitu pun juga dengan PTK ataupun best Practice, setelah laporan PTK dibuat, dikumpulkan ke penilai angka kredit, laporan tersebut biasanya hanya akan disimpan oleh penulis sendiri. Jika beruntung, laporan PTK itu bisa terpajang di perpustakaan sekolah", lanjutnya.

    "Muatan data dan temuan-temuan yang terdapat dalam sebuah KTI sudah barang tentu merupakan sebuah rangkaian informasi penting dan dapat bermanfaat bagi pemecahan persoalan faktual yang sedang dihadapi di lapangan. Tentu sangat disayangkan apabila informasi dan data penting tersebut hanya tergeletak begitu di perpustakaan dan tidak bisa tersampaikan kepada masyarakat luas, terlebih dapat dinikamati oleh masyarakat luas sebagai rujukan yang dapat memberikan solusi nyata", dengan lugas dan lengkap narasumber membeberkan alasan perlunya KTI dijadikan sebuah buku.

   Beberapa manfaat yang akan didapatkan ketika KTI dijadikan sebuah buku, yaitu :

  1. Dapat dibaca oleh masyarakat awam;
  2. Buku dapat diperjualbelikan, sehingga ada keuntungan material yang dapat kita peroleh;
  3. Bagi bapak ibu ASN, buku dapat dijadikan publikasi ilmiah yang dapat menambah poin angka kredit. Jadi selain mendapatkan poin AK dari laporan PTK, kita akan mendapatkan poin dari publikasi ilmiah berupa buku tadi;
  4. Jika buku kita dibaca banyak orang, dan banyak yang beli, ada kemungkinan nama kita sebagai penulis akan dikenal oleh banyak orang, ini juga merupakan keuntungan tersendiri;
  5. Ilmu yang ada, dapat tersebar bebas tanpa sekat jika sudah diubah menjadi BUKU.

        Adapun cara mengubah KTI menjadi sebuah buku, yaitu :



  1. Ubah judul KTI atau PTK kita menjadi judul populer, misalnya JUDUL TESIS Pengembangan modul berbasis riset pada materi reaksi redoks untuk meningkatkan keterampilan generik sains siswa kelas X SMA, ketika diubah menjadi JUDUL BUKU kalimatnya berubah menjadi kiat menulis modul berbasis riset. Kita sesuaikan dengan fokus penelitian, dengan menambah kata : KIAT, JURUS, STRATEGI, CARA SUKSES atau yang lainnya.

  2. Ubah bab I (pendahuluan) pada KTI menjadi bab I buku, dengan menghapus rumusan masalah, definisi operasional, dan manfaat penelitian dengan memasukkan permasalahan pembelajaran secara umum, alasan menggunakan metode/media/model pada pembelajaran, atau materi pelajaran yang kita teliti.

  3. Bab II dan seterusnya pada KTI versi buku dapat diambil dari pengembangan kajian teori pada bab II KTI asli. Sebagai contoh bab 2 KTI yang merupakan landasan teori berisi hasil belajar, media pembelajaran, modul, metode pembelajaran, pembelajaran berbasis riset. Ketika menjadi buku dapat dibuat menjadi beberapa bab yaitu,
          Sub bab 2.1. hasil belajar menjadi bab 2 buku 
          Bab 2 TEORI BELAJAR
            2.1. belajar
            2.2. permasalahan dalam pembelajaran
            2.3. Hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
        Sub bab 2.2. media pembelajaran menjadi bab 3 buku
        Bab 3 MEDIA PEMBELAJARAN
            3.1. Pengertian media
            3.2. jenis media
            3.3. manfaat media
        Sub bab 2.3. modul menjadi bab 4 buku
        Bab 4 mengenal modul 
            4.1.pengertian modul
            4.2. karakteristik modul
            4.3.sistematika modul
            4.4. kelebihan modul
        Dan seterusnya hingga sub bab dalam bab 2 selesai.
     
4. Bab V dapat diambil dari hasil penelitian dan pembahasan. 

A.  Kita dapat memasukkan hasil penelitian KTI ke dalam buku. Ini dapat diawali dengan kata  pengantar "pada bab ini merupakan uraian dari hasil penelitian.... ". 

B.  Hilangkan semua kata Penelitian/ laporan PTK, laporan skripsi dan lainnya yang biasanya ada di karya ilmiah

C.  Boleh menampilkan grafik tetapi jangan terlalu banyak. Cukup grafik yang penting saja. Grafik lain yang tidak ditampilkan, dapat diubah dalam bentuk kalimat

5. Secara kebahasaan dan penyajian, karya ilmiah versi buku haruslah berbeda dengan versi laporan. Susunan dan gaya tulisan bebas terserah penulis, karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing sesuai dengan pengalaman dan bahan bacaannya. Semakin literatnya penulis  maka akan semakin oke buku yang dia tulis. Hal ini karena membaca, berpikir dan menulis adalah satu rangkaian literasi yang tidak dapat dipisahkan. Selain itu, kita harus mengupayakan agar pembaca memahami isi buku kita secara lengkap, dan mengena apabila menjadi karya ilmiah kita diubah menjadi buku

6. Berikanlah ulasan mengenai kelebihan dan kelemahan penelitian yang anda lakukan agar pembaca yakin bahwa anda benar-benar telah melakukan penelitian tersebut

7. Daftar pustaka boleh menggunakan blog namun situs blog resmi seperti Kemendikbud.go.id, Jurnal ilmiah, e book,,atau karya ilmiah lainnya. JANGAN gunakan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain blogspot, wordpress, dll

8. Karya ilmiah versi buku minimal 70 halaman format A5 dengan ukuran huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan Dengan aturan Penerbit.

    Agar buku karya kita tidak menjadi self plagiarisme, maka membuat buku dari karya ilmiah BUKAN BERARTI HANYA mengubah cover dan judul saja sementara isinya sama persis dengan KTI yang sudah kita punya. Kita harus mengubahnya sesuai dengan aturan yang ada sehingga KTI versi buku tidak akan sama struktur dan isinya dengan KTI aslinya

    Supaya karya ilmiah kita memiliki manfaat yang lebih, maka karya tersebut dapat diubah ke dalam bentuk buku. Fungsinya agar dapat dibaca oleh para pengajar lainnya. Ini lebih baik daripada berbagi file laporan karya ilmiah kita. Jika karya ilmiah kita dibukukan, selain memberikan manfaat dalam berbagi ilmu, buku karya ilmiah karya kita juga akan memiliki ISBN. Ini sangat penting  dan mungkin dibutuhkan bagi pengajar untuk menambah nilai angka kredit. Selian itu, karya kita juga tidak akan lekang oleh waktu tentang kebermanfaatannya, demikian penutup ibu narasumber dalam memaparkan materinya.

    Pada sesi tanya jawab, ibu Omma dari NTT mengajukan pertanyaan berkaitan dengan karya tulis yang layak dijadikan buku. Penulis buku kiat praktis menulis modul berbasis riset ini menjawab bahwa karya yang bisa dijadikan buku adalah karya yang pernah diaplikasikan dalam pembelajaran sehingga kita dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan dari model atau teknik yang diterapkan. Selain itu, jika model sudah pernah diuji cobakan maka pembaca akan semakin yakin keefektifan dari karya itu. Sebagai contoh karya yang dapat dikonversi menjadi buku adalah PTK, skripsi, tesis, disertasi, dan karya penelitian lainnya.

    Wah, senang sekali rasanya malam ini dapat inspirasi dari ibu narasumber hebat malam ini. Saya menjadi ingin untuk menerbitkan buku melalui beberapa karya tulis yang sudah pernah kubuat. Semoga saja suatu hari, trik dan tips yang dipaparkan narasumber malam ini bisa saya aplikasikan, sehingga karya tulis yang ada tidak berserakan begitu saja dan dapat bermanfaat bagi teman-teman guru, sebagaimana karya-karya ibu Noralia.




    

      


Jumat, 16 Juli 2021

Resume ke 18 Belajar Menulis Gelombang 19

 Dari Tulisan Blog Menjadi Buku



Tanggal Pertemuan : 16 Juli 2021

Resume ke : 18

Tema : Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku

Narasumber : Rita Wati, S.Kom.

Gelombang : 19


Ditengah kesibukan menyusun roster dan penyusunan RPP tahun ajaran baru, semangat untuk mengikuti kelas menulis gelombang 19 tetap membara. Duduk rapi depan laptop dan handphone yang sesekali dilirik untuk membaca pesan masuk, memastikan kelas menulis sudah dimulai.

Hujan deras mengiringi tarian jemariku menekan tombol demi tombol menuliskan kalimat untuk persiapan pembelajaran jarak jauh yang masih berlangsung semester ini. Belum sampai pada rencana kegiatan penutup, ternyata materi di kelas menulis sudah dimulai. Kututup sementara file RPP dan beralih ke grup WA.

Malam ini memasuki pertemuan ketiga untuk gelombang 19. Pematerinya adalah Ibu Rita wati, S.Kom. yang dipandu oleh Mr. bams. Tema materinya adalah membongkar rahasia menulis hingga menerbitkan buku. Tema yang sangat menarik decakku kagum. Sungguh luar biasa orang-orang yang ada di dalam grup ini. Mereka dengan ikhlas berbagi ilmu, trik, dan rahasia pun dibongkar.

Banyak orang menulis dan menuangkannya hanya di dalam laptop ataupun sekedar diunggah di media sosial. Mereka tidak bisa menerbitkan bukunya. Hal tersebut juga menjadi salah satu pengalaman bagi narasumber, tulisannya diendapkan di hidden folder. Rasa tidak percaya diri dan merasa tidak berbakat menjadi penulis menjadi sebuah momok baginya. Hingga pada akhirnya ibu kelahiran Tanjung pinang ini berhasil menerbitkan beberapa buku, salah satunya berjudul 25 Trik Jitu Menulis dan Menerbitkan Buku.

Pandemi covid-19 memang bukan hanya mendatangkan duka. Ada banyak hikmah yang didapatkan selama bekerja dari rumah. Kesempatan belajar biasanya sangat langka dan terbatas, namun di masa pandemi terbuka banyak kesempatan untuk menambah ilmu termasuk belajar menulis. Saya merasa sangat beruntung mengenal Om Jay. Beliau mengijinkan saya bergabung di grup menulis yang beliau prakarsai hingga saya mengenal beberapa rekan dari berbagai daerah dan bercita-cita untuk menjadi penulis.

Menulis sudah menjadi rutinitas saya sejak remaja, menulis di buku harian menuangkan segala keluh kesah dan pengalaman sehari- hari kemudian digembok supaya orang lain tidak mengetahui apa yang sedang kualami. Menganggap buku harian adalah sahabat yang paling setia kala itu.

Jika dihadapkan pada sebuah pertanyaan tentang alasan saya menulis. Ya, saya jawab bahwa saya menulis karena saya senang. Saya suka menulis pengalaman-pengalaman yang baru saja kulalui hari itu, dengan kata lain saya menulis untuk diri sendiri dan tidak untuk dipublikasikan. Namun, seiring waktu, karir mengharuskan saya produktif untuk menulis karya ilmiah, maka kegiatan menulis saya lakukan untuk sebuah syarat naik pangkat, dan mulailah saya belajar menulis penelitian tindakan kelas.

Disebutkan oleh ibu narasumber bahwa manfaat menulis ada lima, yaitu meredakan stress, memecahkan masalah dengan baik,  menuangkan perasaan sesuai keinginan, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan daya ingat. Dan menurut saya, pendapat tersebut sangat betul, karena selama saya menulis di buku harian, perasaan yag awalnya awut-awutan menjadi fresh kembali setelah dituangkan ke dalam tulisan.

Selain itu, menurut para ahli manfaat menulis adalah meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian, serta mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Selanjutnya ibu guru blogger membocorkan rahasia menulis. Menurutnya, seorang penulis harus mampu menguasai diri sendiri, banyak membaca buku, kemudian menuliskan semua ide yang muncul tanpa memperhatikan aturan PUEBI, karena ada masanya mengedit tulisan.  Tak hanya itu, berlatih menulis 100, 400, hingga 1000 kata dalam sehari dapat membantu penulis untuk menulis dengan lancar. Kemudian membuat peta konsep atau alur cerita yang akan dituliskan, biar pembahasan di dalam tulisan tetap fokus di tema. Dan, berani untuk menunjukkan gagasan baru.

Penulis pemula terkadang mengalami kendala yang sama. Kehabisan ide, miskin kosa kata, sulit merangkai kata, lalu mulailah menunda untuk menulis karena tidak menemukan kata yang pas. Mencoba untuk menulis lagi, namun tidak memiliki rasa percaya diri untuk menunjukkan tulisannya kepada orang lain karena merasa naskahnya kurang bagus.

Membaca merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kendala diatas. Semakin banyak membaca tulisan orang lain, maka akan menambah perbendaharaan kata penulis pemula. Ide pun akan muncul setelah membaca tulisan orang lain, sehingga akan menyusul gagasan-gagasan lainnya yang bisa memperkaya karya kita. Dan jangan lupa untuk menuliskan ide ketika muncul, jangan ditunda hingga ide tersebut menghilang di memori.

Untuk mempublikasikan tulisan, media blog merupakan salah satu media yang sangat bagus digunakan. Karena tulisan tidak akan ditolak sebagaimana ketika kita menyetor ke penerbit. Keuntungan berikutnya, tulisan kita akan dibaca oleh orang-orang di seluruh dunia. Dan, jika kita menulis dua sampai tiga lembar setiap hari di blog, maka dalam sebulan tulisan tersebut sudah bisa dijadikan buku.

Setelah menyimak pemaparan materi malam ini. Jiwa menulisku kembali meronta. Ingin menuangkan segala ide ke dalam tulisan lalu mengunggahnya di blog. Semoga saja, saya juga bisa menjadi guru blogger seperti ibu narasumber dan Om jay. Saya pun jatuh cinta untuk menulis di blog.

“Sekumpulan angin yang berbisik di antara kepak sepasang merpati juga nyanyian mistis tetes hujan saat pertunangan bunga dan kupu-kupu. Jika pernah kau mendengarnya, maka begitulah aku padamu”.(Asma Nadia).

http://www.ritapinang.my.id/

https://www.kompasiana.com/ritapinang/5fe514d78ede4864fb3e50f2/kendaraan-menuju-pendidikan-berbasis-digital

https://catatangurumilenial.wordpress.com/blog-2/






Rabu, 14 Juli 2021

Resume ke 17 Belajar Menulis Gelombang 19

CARA CEPAT MENULIS RESUME




Tanggal Pertemuan : 14 Juli 2021

Resume ke : 17

Tema : Trik Cepat Menulis Resume di Blog

Narasumber : Maesaroh, M.Pd.

Gelombang : 19


      Seharian berada di depan laptop membuat kepala ini terasa dibebani berjuta huruf merangkai kalimat yang beradu cepat untuk dituntaskan. Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru dan persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi siswa baru tahun ini cukup menguras energi bagi kami panitia. Ragam masalah yang ada diupayakan bisa terselesaikan hingga sore hari.

Senja mulai beranjak berganti dengan petang. Tugas di sekolah selesai untuk hari ini, namun kembali saya memikirkan tugas untuk malam ini dan esok hari yang harus saya siapkan. Malam kamis merupakan malam kedua untuk pertemuan kegiatan belajar menulis gelombang 19 dan saya bertugas menulis resume. Materi untuk presentasi bagi calon siswa baru besok pagi belum siap, begitupun juga dengan materi bimbel PPPK bagi rekan tenaga kesehatan belum selesai. Saya berdoa dan terus berharap supaya malam ini diberikan kekuatan menyelesaikan tugas-tugas dengan sempurna.

Denting jarum jam terus memacu saya menekan tuts huruf demi huruf di laptop hingga tak terasa grup WA mulai dikunci oleh Om Jay, dan memberi sinyal bahwa lima menit ke depan materi akan dimulai. Kupacu menyelesaikan slide yang tersisa, dan alhamdulillah beberapa menit kemudian saya bisa mulai menyimak materi yang dipaparkan oleh narasumber di grup WA.

Ibu Maesaroh, M.Pd. adalah narasumber malam ini ditemani ibu Ritawati sebagai moderator. Beliau adalah seorang guru di SMPN 1 Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten. Merupakan alumni belajar menulis gelombang 18 yang melejit karena kepiawaiannya menuliskan resume. Selalu menjadi peserta pertama yang menyetor tugas resume mengantarkan ibu cantik ini menjadi narasumber di gelombang 19 dengan tema trik cepat menulis resume di blog.

Menulis resume dengan cepat menjadi senjata ibu muda ini menjadi blogger millenal. Beliau tidak canggung membagikan triknya sehingga mudah menulis dengan cepat. Ternyata rahasianya yang pertama adalah menggunakan dua perangkat gawai pada saat mengikuti kegiatan. Perangkat handphone digunakan untuk menyimak materi dan perangkat laptop digunakan untuk menulis resume.

Setelah resume selesai, langkah selanjutnya berusaha untuk menjadi orang pertama yang menyetor resume karena hal ini akan berdampak pada kunjungan pembaca di blog. Dengan menempati posisi urutan teratas, tentu akan memicu pembaca untuk penasaran ingin tahu apa yang kita tuliskan. Kedua, gunakan bahasa sendiri. Jangan seketika mencopypaste apa yang diungkapkan oleh narasumber. Sehingga tulisan kita menunjukkan karakter tulisan.

“Menambahkan kutipan atau referensi dari tokoh lain, biasanya akan membuat tulisan resume  lebih kredibel”. Demikian menurut ibu penulis buku Antologi Rinai Rindu Sang Guru ini. Mencantumkan pendapat dari beberapa ahli bisa menjadi penguat resume kita.

Seorang penulis tentunya memiliki ciri khas, meskipun bagi penulis pemula hal ini kadang kurang disadari. Mengemas tulisan dengan bahasa yang khas ternyata juga berdampak pada ketertarikan pembaca untuk selalu menunggu resume kita. Maka mulailah mencari ciri khas anda dalam menulis. Dan tidak ada salahnya dalam tulisan kita disisipkan sebuah kutipan supaya lebih menarik, karena terkadang ada saja yang mau membaca tulisan bergantung pada siapa penulisnya.

Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial lahir dari kerja keras dan konsistensi sang penulis. Duduk depan laptop 10 menit sebelum kegiatan pelatihan menulis dimulai menjadi langkah awal beliau bisa menulis resume dengan cepat. Menulis dengan paragraph yang pendek juga membuat pembaca tidak mudah bosan membaca tulisan sehingga mudah dipahami, serta menulis pernyataan narasumber dengan gaya bahasa Paralelisme, atau bisa saja mengadopsi semua bahasa narasumber dengan memberikan tanda kutip. Pak A mengatakan "...." demikian menurut ibu narasumber.

Menulis resume di blog memerlukan kepercayaan diri bagi penulis. Nah, untuk memberi rasa percaya diri yang kuat bagi penulis pemula, maka ada beberapa tips yang bisa diadopsi dari ibu pendiri paguyuban menulis Gelar Tikar (Tinta Karya) ini. Berikut tipsnya:

1.    Menanamkan rasa percaya diri. Apapun yang anda tuliskan, biarkan dibaca orang lain. Bisa jadi tulisan yang anda anggap biasa saja menjadi tulisan yang luar biasa bagi orang lain.

2.   Siap dikritik. Memasang badan untuk diberikan kritikan dapat membuat mental anda semakin kuat menjadi seorang penulis hebat. Pujian bisa membuat anda terlena dan cepat merasa puas dan lupa untuk melakukan perbaikan.

3.   Menjadi penulis blog yang informatif dan edukatif. Menulis hal yang memberi informasi bagi pembaca dan bisa mengedukasi pembaca melalui tulisan-tulisan anda akan membuat tulisan anda akan selalu ditunggu.

4.   Bangun tulisan diberbagai blog. Menulis naskah yang berbeda di blog yang berbeda pula akan memberi warna tersendiri bagi pembaca. Karena tidak semua pembaca memiliki kesamaan selera dan pandangan.

Diakhir sesi pemaparan materi, ibu Mai menutup dengan sepenggal kalimat motivasi

"Jadilah manusia cerdas yang siap menerima perubahan".

            









Senin, 12 Juli 2021

Resume Ke 16 Belajar Menulis Gelombang 19

 

"Menumbuhkan Kecintaan Menulis"





Tanggal Pertemuan : 12 Juli 2021

Resume ke : 16

Tema : Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Narasumber : Dra. Sri Sugiastuti,.M.Pd.

Gelombang : 19


    Kumandang lantunan adzan Isya sudah terdengar di mesjid, saya membuka aplikasi chatting whatsapp di handphone. Kubaca pesan demi pesan yang masuk dan tertuju pada grup belajar menulis gelombang 19. Saya pun segera membuka pesan yang masuk. Om Jay mengirim pesan disana mengingatkan peserta malam ini untuk mengikuti pertemuan perdana kegiatan belajar menulis gelombang 19. Grup WA untuk sementara ditutup supaya peserta bisa menyimak materi dan membuat resume di blog masing-masing.

    Laptop kubuka perlahan saat Tompel dan Kimmi, kedua kucing kecilku sedang asyik main kejar-kejaran di dekatku. Mereka selalu penasaran dengan tombol keyboard laptop. Kimmi melompat naik ke keyboard dan terketiklah beberapa huruf yang tidak beraturan. Dengan gemas kugendong dia dan segera mengekor di belakangku si Tompel masuk ke kamar anakku sekedar untuk mengamankan situasi yang bisa membuyarkan konsentrasi dalam menyimak materi yang akan disampaikan oleh narasumber. 

    Malam ini merupakan malam perdana di gelombang 19 belajar menulis. Tapi, ini merupakan pertemuan yang kesekian kalinya bagi saya. Karena saya merupakan peserta pelatihan ini sejak gelombang 17, lalu melanjutkan di gelombang 18,dan akhirnya sampai ke gelombang 19, namun belum bisa lulus pelatihan karena belum mampu memenuhi syarat.

    Untuk pertemuan perdana, materi disampaikan oleh seorang narasumber hebat penuh talenta. Selain sebagai penulis yang sudah menerbitkan 21 buku, editor sejak 2019, Ibu cantik ini juga seorang motivator yang suka travelling dan membaca. Beliau adalah ibu Dra. Sri Sugiastuti,.M.Pd. yang akrabnya disapa Bu Kanjeng. 

    Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan? itu adalah pertanyaan pertama yang ada di slide narasumber. Pertanyaan tersebut sedikit menggelitik karena saya mulai menulis hanya didasari rasa penasaran. Padahal menulis merupakan salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial, serta kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir seseorang.

 Ternyata banyak sekali orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang penulis, namun itu hanya angan dan tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Kita terkadang merasa tidak berbakat menulis, tidak memiliki ide, tidak memiliki waktu, tidak mampu menerima kritikan, atau tidak suka menulis. Hal tersebut bisa saja menjadi hambatan bagi seseorang untuk menjadi seorang penulis, termasuk saya sebagai orang yang baru berkecimpung di dunia menulis. Rasa tidak percaya diri, merasa kekurangan ide dan kosakata, dan takut dikritik menjadi sebuah kendala yang harus segera dihadapi dan dimusnahkan agar tidak mengakar dan menghancurkan impianku untuk menjadi penulis handal.

    Untuk menghasilkan sebuah naskah, seorang penulis saat menuangkan ide tentunya pernah menemui kendala. Kendala tersebut bisa saja berasal dari diri sendiri. Kendala seperti kehilangan motivasi menulis. Ketika motivasi seorang penulis tiba-tiba menurun, maka sebaiknya melakukan beberapa hal seperti menonton youtube, membaca karya orang lain, atau keluar menghirup udara segar supaya pikiran bisa kembali rileks dan motivasi menulis kembali bangkit. Selain meningkatkan motivasi, etos kerja juga perlu ditingkatkan sehingga penulis bisa memiliki target untuk menyelesaikan tulisannya.

    Menulis sebuah naskah tentu dimulai dengan pertanyaan mengapa (why). Setiap orang memiliki alasan mengapa dia menulis dan bagaimana (Why) dia menulis. Alasan orang menulis bisa berdasarkan orientasi material(ingin uang), ekstensial (popularitas), personal (mencurahkan perasaan), sosial (mengubah cara berpikir seseorang), dan spiritual (memperoleh pahala).

    Bercita-cita menjadi seorang penulis perlu melakukan beberapa kegiatan yang bisa mendukung, seperti banyak membaca, berdiskusi dengan orang lain jika perlu memiliki mentor yang tepat, mengamati dan merasakan apa yang ada di sekitar kita, memperbanyak sosialisasi dengan orang lain sehingga akan menambah pengetahuan berdasarkan pengalaman atau kisah orang lain.

    Sebelum menulis, kita perlu mempersiapkan beberapa hal yaitu pertama, menemukan ide atau gagasan melalui brainstorming, kemudian menentukan genre tulisan supaya tulisan menjadi tepat sasaran, lalu menentukan topik sesuai pilihan genre. Langkah selanjutnya yaitu membuat outline agar tulisan tetap berada di koridornya dan tidak melebar pembahasannya, kemudian mengumpulkan bahan materi/buku sesuai topik

    Seorang penulis pemula, seringkali ingin segera menuntaskan tulisannya. Padahal seorang penulis seharusnya bersabar, menulis sesuai kemampuan dan kesukaan. Membayangkan karya tulis kita menjadi karya best seller dan enulis untuk beramal sholeh.

    Saat berproses menjadi seorang penulis, kita harus memiliki target untuk menyelesaikan tulisan, disiplin, membuat suasana nyaman dalam proses menulis supaya idenya bisa mengalir deras, serta memiliki fasilitas yang mendukung, dan mood booster supaya kita tetap semangat menyelesaikan naskah sesuai target.  

    Setelah naskah selesai, masih ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan yaitu:

  1. Editing atau penyuntingan yaitu menyempurnakan draft sesuai aturan, 
  2. Rivising yaitu mengubah beberapa bagian naskah, melengkapi naskah, dan mengevaluasi kembali naskah untuk meminimalkan kesalahan menulis,
  3. Publishing, yaitu mempublikasikan karya/tulisan, terdiri dari tahap pengiriman naskah ke penerbit, pencetakan, promosi dan distribusi.

        Tak terasa waktu berakhir, semangatku untuk menulis kembali berkobar dalam dada. Ada setitik harapan untuk bisa menerbitkan sebuah buku diakhir pelatihan ini. Semoga saja impian menjadi kenyataan.







         


    


Senin, 07 Juni 2021

Resume Ke 15 Belajar Menulis

 

TRIK MEMASARKAN BUKU


Memiliki sebuah buku yang merupakan hasil tulisan sendiri tentu sangat menyenangkan. Setelah buku di tangan penulis, terkadang penulis merasa kebingungan untuk memasarkan bukunya apalagi jika buku tersebut diterbitkan di penerbit Indie yang hanya bertugas untuk mencetak buku tanpa harus terlibat dalam penjualan atau pemasaran buku.

Pada kegiatan belajar menulis di pertemuan ke 18 diangkat materi dengan tema teknik promosi buku yang diisi oleh narasumber kece dan berbakat. Beliau adalah bapak Akbar Zainudin, penulis buku Man Jadda Wajada, cetakan ke-13, beredar 55.000 eksemplar. Setelah Man Jadda Wajada, beliau juga menulis 15 buku dari tahun 2010 sampai sekarang. Diantaranya  adalah UKTUB; Panduan Menulis Buku dalam 180 hari yang merupakan buku panduan menulis dari A sampai Z.

Dalam Strategi pemasaran, terdapat 4 hal, termasuk pemasaran buku. Hal tersebut biasa disebut sebagai 4P, yaitu Product (Strategi Produk), Price (Strategi Harga), Place of Distribution (Distribusi), dan Promotion (Promosi).

  1. Strategi produk, yaitu sebelum menulis, kita sebagai penulis harus sudah punya target pemasaran. Misalnya, buku dongeng targetnya anak-anak, buku novel remaja, buku masakan targetnya ibu-ibu, buku pelajaran targetnya anak sekolah dan guru, dan lain-lain. Konsep buku yang akan diterbitkan nanti menyesuaikan dengan kebutuhan dari target audiens.
  2. Strategi harga. Meskipun menentukan harga buku biasanya menjadi tanggung jawab penerbit. Namun, pada dasarnya penentuan harga buku, ada dua strategi. Pertama, adalah harga buku secara umum. Dan Kedua adalah buku dijual dengan harga premium (lebih mahal dibandingkan buku biasa). Harga buku bisa dijual lebih mahal jika mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan buku-buku yang lain. Misalnya hard cover, ditambah bonus-bonus (voucher seminar, workshop, dan lain-lain).
  3. Strategi distribusi. Distribusi secara umum dibagi menjadi dua: distribusi tradisional dan distribusi non tradisional. Distribusi tradisional adalah melalui toko-toko buku, baik toko-toko buku jaringan nasional maupun toko buku lokal. Sedangkan distribusi non tradisional, di antaranya adalah melalui MLM (Multilevel Marketing), melalui penjualan langsung, melalui marketplace/e-commerce (Lazada, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dll).
  4. Strategi promosi. Program promosi bisa dilakukan oleh penerbit maupun penulis. Beberapa program promosi yang bisa dilakukan. Pertama, Launching buku atau program untuk meluncurkan buku baru. Kedua, Bedah Buku. Bedah buku adalah acara diskusi untuk membedah isi buku kita. Ketiga, melakukan seminar ataupun workshop sesuai dengan tema buku kita. Keempat, membangun komunitas. Komunitas yang kita bangun adalah komunitas yang kita sesuaikan dengan tema buku kita. Kelima, membangun jaringan reseller. Reseller adalah orang-orang yang mau menjualkan buku kita dan mendapatkan buku dari hasil yang terjual. Keenam, jualan di marketplace. Buka toko di marketplace (Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya). Ketujuh, memanfaatkan media sosial (Medsos) untuk promosi buku. Manfaatkan sebaik-baiknya followers dan subscriber dengan memberikan informasi tentang buku.

Selain 4 strategi di atas, kita juga harus memiliki beberapa keterampilan dalam memasarkan buku, yaitu, pertama keterampilan berbicara yang baik di depan umum (public speaking). Agar pada saat kita ada acara ataupun rekaman di Medsos dan YouTube, menjadi menarik bagi calon pembaca. Kedua, kemampuan copywriting (membuat kata menarik untuk promosi dan penjualan). Ini salah satu keterampilan paling penting untuk menjual pada Abad 21. Ketiga, pemanfaatan teknologi informasi. Memanfaatkan media sosial seperti YouTube, WA, IG, Facebook, Zoom, Webex, Google Meet, dan sebagainya. Karena eranya sekarang seperti itu.




Tanggal Pertemuan : 26 Mei 2021

Resume ke : 15

Tema : Teknik Promosi Buku

Narasumber : Akbar Zainudin, MM., M.JW

Gelombang : 18

POSTINGAN UNGGULAN

MATERI 1

BENTUK-BENTUK MUKA BUMI Hampir sepanjang sejarah selama ratusan tahun kita telah mengetahui dan juga meyakini bahwa bentuk planet termasuk...