Senin, 12 Juli 2021

Resume Ke 16 Belajar Menulis Gelombang 19

 

"Menumbuhkan Kecintaan Menulis"





Tanggal Pertemuan : 12 Juli 2021

Resume ke : 16

Tema : Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Narasumber : Dra. Sri Sugiastuti,.M.Pd.

Gelombang : 19


    Kumandang lantunan adzan Isya sudah terdengar di mesjid, saya membuka aplikasi chatting whatsapp di handphone. Kubaca pesan demi pesan yang masuk dan tertuju pada grup belajar menulis gelombang 19. Saya pun segera membuka pesan yang masuk. Om Jay mengirim pesan disana mengingatkan peserta malam ini untuk mengikuti pertemuan perdana kegiatan belajar menulis gelombang 19. Grup WA untuk sementara ditutup supaya peserta bisa menyimak materi dan membuat resume di blog masing-masing.

    Laptop kubuka perlahan saat Tompel dan Kimmi, kedua kucing kecilku sedang asyik main kejar-kejaran di dekatku. Mereka selalu penasaran dengan tombol keyboard laptop. Kimmi melompat naik ke keyboard dan terketiklah beberapa huruf yang tidak beraturan. Dengan gemas kugendong dia dan segera mengekor di belakangku si Tompel masuk ke kamar anakku sekedar untuk mengamankan situasi yang bisa membuyarkan konsentrasi dalam menyimak materi yang akan disampaikan oleh narasumber. 

    Malam ini merupakan malam perdana di gelombang 19 belajar menulis. Tapi, ini merupakan pertemuan yang kesekian kalinya bagi saya. Karena saya merupakan peserta pelatihan ini sejak gelombang 17, lalu melanjutkan di gelombang 18,dan akhirnya sampai ke gelombang 19, namun belum bisa lulus pelatihan karena belum mampu memenuhi syarat.

    Untuk pertemuan perdana, materi disampaikan oleh seorang narasumber hebat penuh talenta. Selain sebagai penulis yang sudah menerbitkan 21 buku, editor sejak 2019, Ibu cantik ini juga seorang motivator yang suka travelling dan membaca. Beliau adalah ibu Dra. Sri Sugiastuti,.M.Pd. yang akrabnya disapa Bu Kanjeng. 

    Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan? itu adalah pertanyaan pertama yang ada di slide narasumber. Pertanyaan tersebut sedikit menggelitik karena saya mulai menulis hanya didasari rasa penasaran. Padahal menulis merupakan salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial, serta kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir seseorang.

 Ternyata banyak sekali orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang penulis, namun itu hanya angan dan tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Kita terkadang merasa tidak berbakat menulis, tidak memiliki ide, tidak memiliki waktu, tidak mampu menerima kritikan, atau tidak suka menulis. Hal tersebut bisa saja menjadi hambatan bagi seseorang untuk menjadi seorang penulis, termasuk saya sebagai orang yang baru berkecimpung di dunia menulis. Rasa tidak percaya diri, merasa kekurangan ide dan kosakata, dan takut dikritik menjadi sebuah kendala yang harus segera dihadapi dan dimusnahkan agar tidak mengakar dan menghancurkan impianku untuk menjadi penulis handal.

    Untuk menghasilkan sebuah naskah, seorang penulis saat menuangkan ide tentunya pernah menemui kendala. Kendala tersebut bisa saja berasal dari diri sendiri. Kendala seperti kehilangan motivasi menulis. Ketika motivasi seorang penulis tiba-tiba menurun, maka sebaiknya melakukan beberapa hal seperti menonton youtube, membaca karya orang lain, atau keluar menghirup udara segar supaya pikiran bisa kembali rileks dan motivasi menulis kembali bangkit. Selain meningkatkan motivasi, etos kerja juga perlu ditingkatkan sehingga penulis bisa memiliki target untuk menyelesaikan tulisannya.

    Menulis sebuah naskah tentu dimulai dengan pertanyaan mengapa (why). Setiap orang memiliki alasan mengapa dia menulis dan bagaimana (Why) dia menulis. Alasan orang menulis bisa berdasarkan orientasi material(ingin uang), ekstensial (popularitas), personal (mencurahkan perasaan), sosial (mengubah cara berpikir seseorang), dan spiritual (memperoleh pahala).

    Bercita-cita menjadi seorang penulis perlu melakukan beberapa kegiatan yang bisa mendukung, seperti banyak membaca, berdiskusi dengan orang lain jika perlu memiliki mentor yang tepat, mengamati dan merasakan apa yang ada di sekitar kita, memperbanyak sosialisasi dengan orang lain sehingga akan menambah pengetahuan berdasarkan pengalaman atau kisah orang lain.

    Sebelum menulis, kita perlu mempersiapkan beberapa hal yaitu pertama, menemukan ide atau gagasan melalui brainstorming, kemudian menentukan genre tulisan supaya tulisan menjadi tepat sasaran, lalu menentukan topik sesuai pilihan genre. Langkah selanjutnya yaitu membuat outline agar tulisan tetap berada di koridornya dan tidak melebar pembahasannya, kemudian mengumpulkan bahan materi/buku sesuai topik

    Seorang penulis pemula, seringkali ingin segera menuntaskan tulisannya. Padahal seorang penulis seharusnya bersabar, menulis sesuai kemampuan dan kesukaan. Membayangkan karya tulis kita menjadi karya best seller dan enulis untuk beramal sholeh.

    Saat berproses menjadi seorang penulis, kita harus memiliki target untuk menyelesaikan tulisan, disiplin, membuat suasana nyaman dalam proses menulis supaya idenya bisa mengalir deras, serta memiliki fasilitas yang mendukung, dan mood booster supaya kita tetap semangat menyelesaikan naskah sesuai target.  

    Setelah naskah selesai, masih ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan yaitu:

  1. Editing atau penyuntingan yaitu menyempurnakan draft sesuai aturan, 
  2. Rivising yaitu mengubah beberapa bagian naskah, melengkapi naskah, dan mengevaluasi kembali naskah untuk meminimalkan kesalahan menulis,
  3. Publishing, yaitu mempublikasikan karya/tulisan, terdiri dari tahap pengiriman naskah ke penerbit, pencetakan, promosi dan distribusi.

        Tak terasa waktu berakhir, semangatku untuk menulis kembali berkobar dalam dada. Ada setitik harapan untuk bisa menerbitkan sebuah buku diakhir pelatihan ini. Semoga saja impian menjadi kenyataan.







         


    


Senin, 07 Juni 2021

Resume Ke 15 Belajar Menulis

 

TRIK MEMASARKAN BUKU


Memiliki sebuah buku yang merupakan hasil tulisan sendiri tentu sangat menyenangkan. Setelah buku di tangan penulis, terkadang penulis merasa kebingungan untuk memasarkan bukunya apalagi jika buku tersebut diterbitkan di penerbit Indie yang hanya bertugas untuk mencetak buku tanpa harus terlibat dalam penjualan atau pemasaran buku.

Pada kegiatan belajar menulis di pertemuan ke 18 diangkat materi dengan tema teknik promosi buku yang diisi oleh narasumber kece dan berbakat. Beliau adalah bapak Akbar Zainudin, penulis buku Man Jadda Wajada, cetakan ke-13, beredar 55.000 eksemplar. Setelah Man Jadda Wajada, beliau juga menulis 15 buku dari tahun 2010 sampai sekarang. Diantaranya  adalah UKTUB; Panduan Menulis Buku dalam 180 hari yang merupakan buku panduan menulis dari A sampai Z.

Dalam Strategi pemasaran, terdapat 4 hal, termasuk pemasaran buku. Hal tersebut biasa disebut sebagai 4P, yaitu Product (Strategi Produk), Price (Strategi Harga), Place of Distribution (Distribusi), dan Promotion (Promosi).

  1. Strategi produk, yaitu sebelum menulis, kita sebagai penulis harus sudah punya target pemasaran. Misalnya, buku dongeng targetnya anak-anak, buku novel remaja, buku masakan targetnya ibu-ibu, buku pelajaran targetnya anak sekolah dan guru, dan lain-lain. Konsep buku yang akan diterbitkan nanti menyesuaikan dengan kebutuhan dari target audiens.
  2. Strategi harga. Meskipun menentukan harga buku biasanya menjadi tanggung jawab penerbit. Namun, pada dasarnya penentuan harga buku, ada dua strategi. Pertama, adalah harga buku secara umum. Dan Kedua adalah buku dijual dengan harga premium (lebih mahal dibandingkan buku biasa). Harga buku bisa dijual lebih mahal jika mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan buku-buku yang lain. Misalnya hard cover, ditambah bonus-bonus (voucher seminar, workshop, dan lain-lain).
  3. Strategi distribusi. Distribusi secara umum dibagi menjadi dua: distribusi tradisional dan distribusi non tradisional. Distribusi tradisional adalah melalui toko-toko buku, baik toko-toko buku jaringan nasional maupun toko buku lokal. Sedangkan distribusi non tradisional, di antaranya adalah melalui MLM (Multilevel Marketing), melalui penjualan langsung, melalui marketplace/e-commerce (Lazada, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dll).
  4. Strategi promosi. Program promosi bisa dilakukan oleh penerbit maupun penulis. Beberapa program promosi yang bisa dilakukan. Pertama, Launching buku atau program untuk meluncurkan buku baru. Kedua, Bedah Buku. Bedah buku adalah acara diskusi untuk membedah isi buku kita. Ketiga, melakukan seminar ataupun workshop sesuai dengan tema buku kita. Keempat, membangun komunitas. Komunitas yang kita bangun adalah komunitas yang kita sesuaikan dengan tema buku kita. Kelima, membangun jaringan reseller. Reseller adalah orang-orang yang mau menjualkan buku kita dan mendapatkan buku dari hasil yang terjual. Keenam, jualan di marketplace. Buka toko di marketplace (Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya). Ketujuh, memanfaatkan media sosial (Medsos) untuk promosi buku. Manfaatkan sebaik-baiknya followers dan subscriber dengan memberikan informasi tentang buku.

Selain 4 strategi di atas, kita juga harus memiliki beberapa keterampilan dalam memasarkan buku, yaitu, pertama keterampilan berbicara yang baik di depan umum (public speaking). Agar pada saat kita ada acara ataupun rekaman di Medsos dan YouTube, menjadi menarik bagi calon pembaca. Kedua, kemampuan copywriting (membuat kata menarik untuk promosi dan penjualan). Ini salah satu keterampilan paling penting untuk menjual pada Abad 21. Ketiga, pemanfaatan teknologi informasi. Memanfaatkan media sosial seperti YouTube, WA, IG, Facebook, Zoom, Webex, Google Meet, dan sebagainya. Karena eranya sekarang seperti itu.




Tanggal Pertemuan : 26 Mei 2021

Resume ke : 15

Tema : Teknik Promosi Buku

Narasumber : Akbar Zainudin, MM., M.JW

Gelombang : 18

Rabu, 26 Mei 2021

Resume ke 14 Belajar Menulis

 Tips Menyusun Buku


Menulis sebuah buku tentu harus memiliki daya tarik bagi pembacanya, dan sebelum sampai ke tangan pembaca, buku tersebut melalui proses editing dan beberapa tahapan proses lainnya. Hingga akhirnya dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Narasumber hari ini adalah Bapak Yulius Roma Pantandean,S.Pd. Seorang guru muda yang berasal dari Tana Toraja dengan kemampuan menulis yang sangat mumpuni dan sudah berhasil menembus penerbit mayor yaitu penerbit Andi, dengan tema materi Langkah Menyusun Buku.

Menulis naskah buku tanpa beban akan lebih dinikmati, apalagi pada saat merapikan naskah. Perasaan yang selalu menghantui seperti menganggap naskah kita tidak berkualitas, bahasanya kurang bagus, dan takut tidak diterima oleh pembaca, supaya dibuang jauh-jauh. Hal ini hanya akan menjadi penghambat untuk meneruskan sebuah naskah yang sudah kita rencanakan.

Guru Berprestasi jenjang SMA Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021 ini menyatakan, sebuah langkah awal dalam menyusun sebuah buku, adalah penulis harus memiliki keyakinan bahwa naskahnya paling unik diantara semua buku yang pernah terbit. Kedua, jika naskahnya memiliki TOC (Table of Contents), baca ulang urutan judul dan sub judulnya. Mungkin saja ada judul yang cocok di Bab lainnya, termasuk potongan-potongan naskahnya. Hindari ada pengulangan isi paragraf yang persis sama di Bab lainnya.

Ketiga, penulis dapat memastikan ukuran kertasnya A5 dengan jumlah halaman khusus isi buku minimal 75 halaman. Keempat, disarankan menerbitkan buku solo dengan mengupayakan ada Kata Pengantar dari orang lain. Kelima, menambahkan Prakata selaku penulis. Keenam, jika memiliki gambar pendukung, cantumkan sumber gambarnya. Ketujuh, Editing naskah dan finalisasi. Kedelapan, baca ulang naskahnya untuk memastikan urutan Bab, judul dan sub judulnya sudah sesuai.

Untuk memudahkan dalam menyusun buku, penulis buku Guru Menulis Guru Berkarya ini membagikan beberapa metode yang dapat digunakan penulis melalui akun chanel youtubenya, seperti membuat judul, Bab dan sub judul pada buku secara otomatis, membuat indeks pada tulisan berbentuk buku, membuat nomor halaman berbeda secara otomatis, membuat daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka otomatis.

Hal yang penting untuk sering-sering dilakukan juga adalah menyiangi naskah tulisan kita. Kadang ada Bab yang masih minim materinya, tentunya butuh tambahan materi. Jika merasa kesulitan menambahkan kalimat, tambahkanlah contoh-contoh pengalaman nyata yang pernah bapak/ibu jalani yang terkait dengan topik bukunya, demikian saran beliau.

Terkadang saat asyik menulis biasa ada naskah yang mirip. Adanya naskah yang mirip ini tak perlu dihilangkan, namun salah satu bagiannya bisa dijadikan sebagai bagian pembahasan konsepnya, sementara bagian lainnya menjadi tempat pemaparan contoh-contoh konkritnya. Sehingga antara kedua bagian yang sama tadi menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi.

Tips berikutnya agar naskah buku yang isinya biasa-biasa saja akan menjadi elegan, biasakan merapikan naskah kita sebelum dikirimkan ke penerbit. Naskah yang rapi tentunya sedikit membuat jatuh hati penerbit pada naskah buku kita. Naskah buku yang isinya biasa-biasa saja akan menjadi elegan ketika RAPI.

Jika pada satu waktu naskah yang kita tulis seolah-olah tidak terkait satu sama lain, namun memiliki judul yang berdiri sendiri pada tiap Bab, jadikan saja naskah buku dalam bentuk Bunga Rampai, tutur pemenang Ketiga Lomba Kreatifitas Guru Tingkat SMA pada Porseni PGRI Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017 ini.

Mengakhiri pertemuan, pak Roma menuliskan closing statementnya, Menyusun naskah buku adalah momen menikmati tulisan kita. Jatuh bangunnya kita dalam menulis akan dinikmati ketika memasuki tahap menyusun naskah-naskah yang terserak. Membiasakan diri membaca ulang dan menyunting naskah adalah tahap pembiasaan diri untuk untuk menghasilkan karya buku yang elegan. Seringkali ide yang terselip oleh tumpukan pikiran kita akan terungkit kembali dalam proses penyusunan naskah. Jadi, nikmatilah tahap menyatukan naskah-naskah buku sahabat-sahabat sekalian.

             



Tanggal Pertemuan : 24 Mei 2021

Resume ke : 14

Tema : Langkah Menyusun Buku

Narasumber : Yulius Roma Pantandean,S.Pd.

Gelombang : 18


Selasa, 25 Mei 2021

Resume ke 13 Belajar Menulis

 

MENULIS BUKU NONFIKSI





Menulis buku nonfiksi merupakan sebuah impian bagi saya. Menurut para penulis profesional menulislah apa yang anda sukai dan anda kuasai. Sebenarnya, saya lebih menyukai menulis fiksi. Tetapi, saya adalah seorang guru, sehingga tidak salah jika memiliki keinginan untuk bisa menulis sebuah buku nonfiksi yang  bisa digunakan di sekolah ataupun menjadi rujukan kepada teman-teman seprofesiku.

Materi pada pertemuan kali ini, dibawakan oleh seorang ibu yang berasal dari Kediri, memiliki sebuah karya yang sudah tembus di penerbit mayor. Beliau adalah ibu Musiin, M.Pd. yang akrab disapa bu Iin. Tema materinya adalah konsep buku nonfiksi. Seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998, juga merupakan founder organisasi swadaya masyarakat YAPSI yang berdiri sejak tahun 1991, serta founder PT In Jaya yang bergerak di bidang ekspedisi untuk pendistribusian produksi Indomarco dan Indolakto Pasuruan.

Awal materi, disajikan foto buku hasil karya beliau yang sudah terpajang di Gramedia, sebuah kebanggaan bagi seorang penulis jika bukunya bisa berada di barisan rak buku tersebut. Hal ini beliau lakukan untuk membakar semangat para peserta untuk bisa menelorkan sebuah buku yang nantinya bisa juga dipajang di Gramedia atau memiliki banyak pembaca.

Menjadi penulis, tentunya memiliki beberapa alasan. Tidak semua orang bisa menjadi penulis jika hanya berdiam dan berkhayal. Berikut adalah beberapa alasan mengapa orang ingin menulis. Pertama, penulis ingin mewariskan ilmu melalui buku yang dia tulis. Kedua,penulis ingin memiliki buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline, dan yang ketiga adalah penulis ingin mengembangkan profesinya sebagai seorang guru.

Dalam penulisan buku nonfiksi ada tiga pola yaitu :

1.    Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit), Contoh: Buku Pelajaran;

2.    Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses), Contoh: Buku Panduan;

3.    Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara).

Menulis buku nonfiksi hampir sama dengan menuis buku fiksi. Ada tahapan – tahapan yang harus dilalui oleh seorang penulis, tahapan tersebut adalah :

  1. Menentukan tema, misalnya tema parenting, pendidikan, motivasi, dan sebagainya;
  2. Menemukan ide. Ide bisa berasal darimana saja, bisa dari pengalaman pribadi ataupun dari pengalaman orang yang ada di sekitar kita;
  3. Merencanakan jenis tulisan;
  4. Mengumpulkan bahan tulisan;
  5. Bertukar pikiran;
  6. Menyusun daftar;
  7. Meriset;
  8. Membuat Mind Mapping;
  9. Menyusun kerangka.

Mengembangkan kerangka yang telah disusun memerlukan keterampilan agar tulisan yang dibuat dapat tertata dengan rapi. Menulis buku nonfiksi seharusnya memuat anatomi buku yang terdiri dari halaman judul, halaman daftar isi, halaman prakata, bagian /bab, halaman glosarium, halaman daftar pustaka, halaman indeks, dan halaman tentang penulis.

Selanjutnya, menulis draf, yaitu penulis menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas, tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan. Berikutnya adalah merevisi draf, yaitu penulis merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian serta memeriksa gambaran besar dari naskah. Dan terakhir adalah menyunting naskah (KBBI dan PUEBI).

Penulis kerapkali mengalami hambatan dalam menulis. Saya pun mengalami banyak hambatan dalam menulis. Hambatan- hambatan tersebut seperti hambatan waktu, hambatan kreativitas, hambatan teknis, hambatan tujuan, dan hambatan psikologis. dari beberapa hambatan diatas, sepertinya hambatan yang paling sering saya alami adalah hambatan psikologis.

Banyaknya hambatan yang sering dialami penulis, maka seorang penulis pun harus mampu untuk mengatasi hambatan –hambatan tersebut, dengan cara banyak membaca, mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber, harus disiplin menulis setiap hari, dan melakukan kegiatan yang menyenangkan sehingga muncul kembali gairah untuk menulis.

Musuh besar perubahan adalah diri sendiri. Apakah hal-hal hebat yang ada diri Bapak Ibu akan berlalu begitu saja tanpa bisa diambil oleh anak cucu kita. Keluarkan potensi hebat Bapak Ibu menjadi sebuah buku. Demikian closing statement dari penulis buku Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi.





Tanggal Pertemuan : 21 Mei 2021

Resume ke : 13

Tema : Konsep buku nonfiksi

Narasumber : Musiin, M.Pd.

Gelombang : 18

 

 

 

Resume ke 12 Belajar Menulis

 MENJADI PROOFREADING


Kelas belajar menulis yang saya ikuti sudah memasuki pertemuan ke 15, banyak sudah jurus jitu cara menulis, menumbuhkan ide menulis, bahkan sampai pada cara menerbitkan buku. Sebagai peserta, saya diharuskan menuliskan resume setiap pertemuan. Namun, rupanya rasa malas masih selalu merajai hatiku sehingga saya terlalu sibuk santai menikmati hayalan tanpa aksi nyata menyelesaikan tugas-tugasku.

Pertemuan ke 15 yang dipandu oleh ibu Rita wati bersama narasumber Bapak Susanto,S.Pd. dengan tema Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku. Baru hari ini saya buatkan resume. Tapi dalam hati selalu ada keinginanku untuk menyelesaikan semua resume di kegiatan ini.

Istilah proofreading adalah sebuah istilah asing di telingaku. Hal ini dikarenakan saya merupakan orang baru di dunia kepenulisan, dan jujur baru kali ini mendengar istilah tersebut. Saya lalu mencermati satu persatu kalimat yang mengartikan apa itu proofreading.

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan, demikian menurut penuturan bapak kelahiran Kebumen tersebut. Kegiatan ini sesungguhnya adalah kegiatan akhir setelah tulisan selesai, lanjutnya. Itulah alasan mengapa para penulis professional selalu menyarankan ketika kita menulis, tidak perlu memperhatikan kesalahan penulisan atau pengetikan, karena ada masanya kita melakukan proses perbaikan tulisan sebelum dipublikasikan .

Memperbaiki tulisan, terutama  pengetikan huruf yang salah sering kualami, dan itu sudah menjadi kebiasaan saya untuk memperbaikinya pada saat menulis. Ternyata hal tersebut adalah sesuatu yang keliru. Maka dengan imu yang saya dapatkan di pelatihan ini, mulai sekarang saya berusaha untuk mengetik saja dan hanya sesekali melihat ke layar laptop. Untuk menghindari keinginan memperbaiki ejaan.

Melakukan proofreading sesungguhnya kita akan bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah karya tulis kita sudah bisa dimengerti atau justru berbelit-belit. Harapannya, setelah melewati tahapan proofreading, karya kita bisa lebih mudah dipahami oleh pembaca, demikian menurut bapak guru kelas SDN Mardiharjo ini.

Proofreading berbeda dengan editing. Mengedit dan mengoreksi adalah langkah berbeda dalam proses merevisi teks. Pengeditan dapat melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, sedangkan proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi. Proofreading sangat penting dilakukan karena sebuah tulisan akan menjadi menarik setelah melalui proses ini.

Menurut "penerbit deepublish" ada  beberapaa langkah dalam melakukan pengeditan dan proofreading, yaitu :

1.   Pengeditan Konten : merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian adalah langkah pertama;

2.    Pengeditan Baris : merevisi penggunaan bahasa untuk mengomunikasikan cerita, ide, atau argumen seefektif mungkin. Ini mungkin melibatkan perubahan kata, frasa dan kalimat serta penyusunan ulang paragraf untuk meningkatkan aliran teks adalah langkah kedua;

3. Menyalin Pengeditan, memoles kalimat individual untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Salinan dari editor tidak mengubah konten teks, tetapi jika kalimat atau paragraf ambigu atau canggung, mereka dapat bekerja dengan penulis untuk memperbaikinya, ini adalah langkah ketiga;

4. Proofreading : cek ejaan, pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI, konsistensi nama dan ketentuan, dan perhatikan judul bab serta penomorannya.

     Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Kesalahan pengetikan yang biasanya dianggap kesalahan kecil biasanya memberi dampak yang besar bagi pembaca. Terkadang pembaca merasa kurang menikmati tulisan karena adanya typo atau kesalahan dalam menulis, misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.

Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya. Cara mudah untuk memeriksanya adalah dengan melakukan tindakan menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F). Lalu, ketikkan tanda koma. Maka akan muncul highlight teks dengan warna kuning. Kesalahan tersbut akan muncul dan kita pun bisa memperbaikinya.

Penulis adalah EDITOR PERTAMA sekaligus PROOFREADER PERTAMA. Sehingga penulis sebaiknya melakukan editing dan proofreading pada tulisannya sebelum tulisan tersebut diserahkan ke penerbit.



Tanggal Pertemuan : 7 Mei 2021

Resume ke : 12

Tema : Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku

Narasumber : Susanto,S.Pd.

Gelombang : 18



Senin, 10 Mei 2021

Resume ke 11 Belajar Menulis

 Mudahnya Menulis Cerita Fiksi




Cerita fiksi adalah sebuah tulisan yang dihasilkan dari imajinasi atau khayalan penulis dengan cerita yang masuk akal. Cerita yang ada, biasanya terinspirasi dari kisah nyata dikehidupan ini, kemudian ditulis dengan beberapa perubahan sehingga hanya menyerupai cerita nyata.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sangat senang membaca buku cerita, apalagi dongeng anak yang mengisahkan kisah-kisah ajaib. Saat itu saya belum tahu jika buku yang sering kubaca termasuk dalam cerita fiksi. Di dalam kelas, hal yang paling saya senangi ketika guru memberikan tugas membaca buku cerita kemudian kami disuruh menceritakan kembali di hadapan teman-teman. Saya akan membusungkan dada tampil menceritakan semua kejadian yang ada di kisah yang baru saja kubaca.

Kegemaran membaca buku fiksi terus menjadi kebutuhan hingga saya menjadi guru. Gramedia adalah tempat favorit saya jika berkunjung ke mall. Tak lupa untuk membawa pulang satu atau dua buku fiksi. Buku-buku yang kubeli tidak bertahan lama di rak, karena setelah saya membacanya, saya akan dengan semangat menceritakan ke teman-teman tentang cerita dalam buku itu, sehingga teman-teman akan bergantian meminjamnya, hingga tidak tahu lagi buku itu sudah berada dimana.

Kecintaan dengan bacaan fiksi kemudian memantik keinginan untuk bisa memiliki sebuah buku fiksi, maka pada tahun 2019, saya mengikuti sebuah pelatihan dan berhasil menerbitkan novel yang berjudul April bukan bulan, dan di tahun 2020 bersama rekan -rekan menulis cerpen yang dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Perempuan yang menjeda kenangan.


Materi kali ini sangat menarik, karena saya sebagai penulis pemula tentu masih sangat membutuhkan pengetahuan tentang cara menulis fiksi yang baik dan benar. Pria kelahiran Sukoharjo, bertugas sebagai guru IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat, siang ini akan membagikan ilmunya kepada kami peserta pelatihan belajar menulis. Bapak Sudomo, S.Pt. dengan nama pena Momo DM. Seorang penulis fiksi yang sudah meraih beberapa penghargaan dibidang menulis, salah satunya yaitu sebagai juara 1 Lomba menulis cerpen dari interpretasi foto setting tempat yang diselenggarakan oleh Travel Agent Eazy Travel Jakarta tahun 2012.

           

Menampilkan slide dan penjelasan melalui pesan suara beliau memaparkan materinya dengan lugas. Sebagai peserta saya menyimak materi yang disajikan oleh bapak narasumber yang sudah menerbitkan beberapa karya fiksi ini. 

Menulis cerita fiksi bagi seorang guru memiliki empat alasan untuk melakukannya. Pertama, dalam Asesmen Kompetensi Minimun (AKM) memerlukan kemampuan literasi teks fiksi. Kedua, sebagai cara menemukan passion kita dalam bidang kepenulisan. Ketiga, sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri dari sebuah luka dengan menitipkan segala sesuatu yang ada pada diri kita pada tokoh-tokoh cerita. Keempat, sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan menulis.

Untuk bisa menulis fiksi, penulis hendaknya memenuhi syarat. Syaratnya adalah harus banyak membaca cerita fiksi, lalu memiliki keinginan dan kemampuan untuk melakukan riset. Selanjutnya, penulis harus mampu memahami dasar- dasar menulis cerita fiksi, serta mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Tak lupa, untuk tetap menjaga komitmen, niat, dan konsistensi menulis.

Cerita fiksi, ada beberapa bentuk yang dapat dibedakan berdasarkan ciri-cirinya. Nah, apa sajakah itu? Berikut kita lihat perbedaannya.

  1. Fiksimini, adalah sebuah tulisan fiksi yang terdiri dari 6 sampai 10 kata.
  2. Flash fiction, adalah tulisan fiksi yang terdiri dari 50 sampai 100 kata.
  3. Fentigraf, adalah tulisan fiksi yang terdiri dari 3 paragraf.
  4. Cerpen, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata dibawah 7500.
  5. Novelet, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata antara 7500 sampai 17500.
  6. Novela, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata antara 17500 sampai 40000.
  7. Novel, adalah tulisan fiksi dengan jumlah kata diatas 40000.

Membentuk sebuah cerita fiksi memerlukan unsur-unsur pembangun cerita. Sebelum menulis tentunya harus menentukan tema terlebih dahulu, kemudian ada premis, alur atau plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Kesemua unsur tergabung dan saling berhubungan sehingga membentuk satu kesatuan untuk menjadi sebuah cerita fiksi.

Lalu, bagaimana kiat menulis cerita fiksi? Pertama yang harus ada adalah niat, karena dengan niat kita bisa menjadi termotivasi untuk memulai hingga menyelesaikan tulisan. Kedua adalah banyak membaca referensi cerita fiksi yang ditulis oleh orang lain, sehingga kita menemukan bahan berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan. Ketiga, Ide dan genre. Ketika ide itu datang, segera tuliskan dan nanti dilain kesempatan bisa dikembangkan dengan imajinasi, sedangkan genre bisa kita pilih sesuai dengan kesukaan kita, apakah cerita tersebut bergenre anak-anak, remaja, ataupun dewasa.

Ketika ketiga hal tersebut diatas sudah ada, maka langkah berikutnya adalah membuat outline, yang berisi kerangka tulisan dengan menuliskan unsur-unsur pembangun cerita yang akan ditulis. Kemudian mulailah menulis dengan mengenalkan tokoh dan memunculkan konflik dengan menggunakan imajinasi dan logika, dan jangan lupa untuk memberikan ending cerita yang mengesankan.

Setelah menulis, proses selanjutnya adalah swasunting, yaitu proses penyuntingan tulisan dengan memperhatikan kata baku, kesalahan pengetikan, dan siapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)  untuk membantu membenarkan kesalahan penulisan.

Proses terakhir dalam menulis fiksi yaitu publikasi. Semua orang memiliki keinginan agar tulisannya bisa dibaca orang lain. Untuk mempublikasikan tulisan tersebut, bisa diterbitkan di penerbit indie atau penerbit mayor.





Tanggal Pertemuan : 3 Mei 2021

Resume ke : 11

Tema : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber : Sudomo, S.Pt.

Gelombang : 18


Sabtu, 08 Mei 2021

Resume ke 10 Belajar Menulis

 Tips Tembus Penerbit Mayor

                          

Mendung pagi hari sangat menggoda raga ini untuk tetap di pembaringan. Apalagi beberapa hari yang lalu berderet kegiatan yang harus diikuti dan menyelesaikan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang guru.

Dengan tekad yang kuat, saya mulai memainkan jemari di atas tombol keyboard laptop yang selalu setia menerima hentakan demi hentakan halus untuk menciptakan serangkaian kalimat yang siap untuk dibaca.

Membuat resume belajar menulis gelombang 18 harus selesai pagi ini, sudah ada beberapa pertemuan yang belum sempat saya tuliskan resumenya. Saya memulai menuliskan resume pagi ini dengan materi yang disajikan pada pertemuan ke 12. Wah, saya banyak ketinggalan. Harus tancap gas nih kalau tidak mau jauh tertinggal.

Pertemuan ke 12 diisi oleh seorang narasumber yang berasal dari salah satu penerbit mayor yang sudah banyak menerbitkan buku dan mengorbitkan penulis-penulis handal. Tentunya juga memantik keinginan saya untuk bercita-cita suatu saat tulisanku bisa diterbitkan oleh penerbit ini. Beliau adalah Bapak Joko Irawan Mumpuni, merupakan Direktur Penerbit ANDI, Ketua I, IKAPI DIY , Penulis buku, bersertifikat BNSP dan merupakan Assesor BNSP.

Dalam dunia pasar buku, terdapat dua jenis buku yaitu buku teks dan nonteks. Yang sering kita temui di dunia kerja adalah buku teks yang terdiri dari buku pelajaran dan buku perguruan tinggi. Sedangkan buku nonteks terdiri dari buku-buku fiksi, buku-buku popular, buku petunjuk praktis, buku masak, dan sebagainya. Buku ini biasanya dimiliki karena kecintaan membaca cerita yang dijadikan media hiburan bagi sebagian orang.

Untuk menerbitkan sebuah buku. Penerbit mayor memiliki kriteria yang menjadi pertimbangan demi mencegah kerugian-kerugian yang akan terjadi, karena sejatinya sebuah penerbit bertujuan untuk mengejar keuntungan.

Kriteria yang diperlukan dibagi atas empat kuadran.

  1. Pertama, yaitu temanya tidak populer tetapi penulisnya populer. Naskah yang termasuk dalam kuadran ini tentunya akan diterbitkan oleh penerbit mayor karena sudah diyakini akan laku di pasaran.
  2. Kedua, temanya populer dan penulisnya populer. Penerbit tidak akan ragu untuk menerbitkan naskah di kategori ini, karena sudah menjanjikan keuntungan besar dan akan laku keras di pasaran.
  3. Ketiga,  temanya populer meskipun penulisnya bukan populer. Kategori ini cocok untuk penulis pemula, yang belum pernah sama sekali menerbitkan buku yg diterima di penerbit mayor.Hal ini dapat membantu penulis untuk menjadi populer dan naskah berikutnya tentu akan diterima oleh penerbit mayor.
  4. Keempat, temanya tidak populer dan penulisnya tidak populer. Naskah yang ada di kuadran ini pasti akan ditolak oleh penerbit mayor, karena tidak bisa menjanjikan keuntungan bagi penerbit maupun ke penulis.

Sebagai penulis pemula yang belum pernah diterbitkan bukunya oleh penerbit mayor, meskipun sudah seringkali mengirimkan naskah dan yang terjadi tidak pernah diterbitkan, malah dikembalikan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ya, itu disebabkan penerbit mayor memiliki sistem penilaian, yaitu :

  1. Peluang potensi pasar dengan porsi 50- 100% menjadi penilaian yang tidak bisa diabaikan. Semakin tinggi peluang laku, maka semakin besar potensi untuk diterbitkan oleh penerbit mayor.
  2. Reputasi penulis 100-10%. Penulis terkenal atau memiliki reputasi yang bagus pasti banyak pembaca yang akan membeli bukunya.
  3. Kelimuan 30%.
  4. Editorial 10%.

Semua penulis tentu berkeinginan naskahnya diterbitkan oleh penerbit mayor, karena ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh oleh penulis, yaitu peningkatan finansial, peningkatan karir, kebutuhan batin, dan reputasi.

Untuk menerbitkan sebuah buku, ada beberapa langkah yang ditempuh oleh seorang penulis, yaitu naskah yang sudah jadi dikirimkan ke penerbit, setelah naskah dianggap layak untuk diterbitkan oleh penerbit, maka penulis akan diminta untuk mengirimkan naskah lengkap dan menandatangani kontrak perjanjian dengan penerbit. Kemudian buku dicetak dalam jumlah besar untuk diserahkan ke penyalur yaitu toko buku atau pasar buku dan berharap buku tersebut bisa sampai kepada pembaca.

Di Indonesia, sebuah penerbit mayor akan berhati-hati jika ingin menerbitkan buku, karena melihat kondisi masyarakat di negara kita yang memiliki minat baca yang sangat rendah. Ada kekhawatiran jika buku yang diterbitkan tidak laku di pasaran. Ini terjadi akibat kecenderungan masyarakat Indonesia lebih suka menonton daripada membaca. Hal ini tentu berpengaruh pada pasar buku, ditambah lagi kurangnya minat tulis dan banyaknya pembajakan yang seolah dibiarkan sehingga tidak ada apresiasi hak cipta.

Nah, jika Anda ingin menerbitkan buku, maka perlu diperhatikan pemilihan penerbit yang baik. Bagaimana memilih penerbit yang baik? berikut tipsnya.

  1. Memiliki visi dan misi yang jelas
  2. Memiliki bussines core lini produk tertentu
  3. Pengalaman penerbit
  4. Jaringan pemasaran
  5. Memiliki percetakan sendiri
  6. Keberanian mencetak jumlah eksemplar
  7. Kejujuran dalam pembayaran royalti.

    Mengutip kalimat Pramudya, "Tahulah kau, mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadai, sampai jauh, jauh dikemudian hari".






Tanggal Pertemuan : 30 April 2021

Resume ke : 10

Tema : Penerbit Mayor

Narasumber : Joko Irawan Mumpuni

Gelombang : 18







POSTINGAN UNGGULAN

MATERI 1

BENTUK-BENTUK MUKA BUMI Hampir sepanjang sejarah selama ratusan tahun kita telah mengetahui dan juga meyakini bahwa bentuk planet termasuk...